Banyuwangi Gelar Sayembara Arsitektur Pusat Informasi Geopark Di Kaki Gunung Ijen

oleh -
oleh
Bandar Udara Banyuwangi, terminal hijau pertama di Indonesia. (Foto: arahjatim.com/humaskbwi)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Pemkab Banyuwangi menggelar sayembara desain arsitektur untuk desain bangunan Pusat Informasi Pariwisata Geopark Nasional Banyuwangi (GNB) yang lokasinya berada di kaki Gunung Ijen.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, arsitektur menjadi bagian integral pembangunan di Banyuwangi. Ruang-ruang publik dibangun dengan menggandeng arsitek, karena Banyuwangi tak ingin bangunan yang berdiri secara fungsional saja, tapi juga harus indah, ikonik, dan tak lekang oleh waktu.

“Untuk itu, pusat informasi wisata geopark yang akan dibangun ini dilombakan. Kami ingin lebih banyak arsitek yang ikut mewarnai ruang publik di Banyuwangi,” kata Anas.

pasang iklan_rev3

Selama ini, Banyuwangi telah melibatkan arsitek tersohor untuk mengembangkan berbagai pengembangan, mulai bandara, taman, destinasi wisata, hotel, industri, lembaga pendidikan, hingga Puskesmas. Mereka yang terlibat antara lain Andra Matin, Yori Antar, Adi Purnomo, Budi Pradono, hingga Denny Gondo.

“Bangunan yang ikonik bisa menjadi pendorong ekonomi daerah dengan banyaknya orang yang datang berkunjung,” imbuh Anas.

Baca juga:

Pusat informasi pariwisata GNB ini nantinya akan difungsikan sebagai pusat informasi tentang keragaman geologi, keragaman hayati, dan budaya di sekitar situs-situs GNB. Banyuwangi sendiri telah ditetapkan sebagai kawasan Geopark Nasional, dengan tiga situs yang melingkupinya, yakni blue fire Gunung Ijen, Pulau Merah, dan Taman Nasional Alas Purwo. Dan saat ini dalam proses diajukan untuk masuk jaringan geopark dunia (Global Geopark Network UNESCO).

Lokasi pusat informasi wisata itu berada di tengah areal persawahan Desa Kenjo Kecamatan Glagah seluas 8.200 meter persegi. Kenjo merupakan salah satu desa di Banyuwangi yang berada tak jauh dari kaki Gunung Ijen, dan dikenal sebagai penghasil beras premium. Warga desa tersebut dikenal sebagai suku Osing, masyarakat lokal Banyuwangi.

Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Penataan Ruang Banyuwangi, Mujiono, menambahkan, kriteria desain yang disayembarakan adalah bangunan yang dihasilkan harus mencerminkan integrasi antara kebutuhan masyarakat dengan kekhasan budaya daerah. Selain menonjolkan nilai kelokalan, juga harus berorientasi masa depan, serta menerapkan konsep arsitektur hijau.

Berbagai bangunan dan ruang publik di Banyuwangi yang perancangannya melibatkan arsitek kenamaan Indonesia. (Foto: arahjatim.com/humaskbwi)

Sayembara ini dibuka untuk kalangan arsitek, yang memiliki keanggotaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pendaftaran dibuka dari 14 Maret hingga 31 Mei 2019.

“Para peserta bisa mendaftar di website www.iai-arema.com. Tanggal 22 Juni [2019] adalah batas pengumpulan karya, 1 – 13 Juli penjurian. Lalu 31 Juli [2019] pengumuman sekaligus malam apresiasinya dan penyerahan hadiah,” jelas Mujiono.

Dalam sayembara ini, Pemkab Banyuwangi menggandeng Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur dan IAI wilayah III Malang. Dewan juri sayembara terdiri dari Eko Prawoto, Tan Tik Lam, dan Hari Sunarko dari kalangan arsitek. Juga budayawan lokal Samsudin Adlawi. Dan panitia menyiapkan hadiah sebesar Rp115 juta untuk pemenang sayembara. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.