BONDOWOSO, ArahJatim.com – Kisah sukses di dunia teknologi tak melulu milik mereka yang lahir di metropolitan. Dari sudut kota kecil Bondowoso, Jawa Timur, muncul nama Erfan Febriantoro (40), sosok inspiratif di balik perusahaan jasa pengembang aplikasi Neturmeric yang kini melayani klien di seluruh pelosok negeri, dari Papua hingga Jakarta.
Perjalanan Erfan bukanlah jalan tol. Berawal dari latar belakang keluarga sederhana di Puger, Jember, dengan ayah seorang sopir truk dan ibu penjahit, masa kecilnya penuh dengan keterbatasan. Sejak dini, naluri dagangnya sudah terasah: mulai dari berjualan mainan berhadiah hingga snack.
Jurus Bertahan Hidup: Lukis Spanduk Hingga Sales Keliling
Jatuh bangunnya kehidupan dimulai sejak SMA di Jember. Ketika sang ayah sakit dan tak bisa bekerja, Erfan harus memutar otak agar tetap bisa sekolah. Ia bekerja serabutan, dari membantu fotokopi soal, menjual pakaian bekas, melukis wajah, hingga bekerja paruh waktu di percetakan spanduk.
Momen Pemilu 2004 menjadi titik baliknya. Banjir pesanan spanduk berhasil memberinya keuntungan besar, modal untuk menebus ijazah SMA yang sempat tertahan karena tunggakan biaya.
Dengan modal itu, ia merantau ke Surabaya dan Jakarta, menjadi sales keliling vacuum cleaner dan air minum kemasan. Hidupnya keras, ia harus menjual barang demi mendapat komisi—tanpa penjualan, tak ada penghasilan.
Programmer Otodidak dari Ruang Tamu 3×4 Meter
Titik balik terbesarnya justru datang di Bondowoso, tempat ia menetap setelah menikah dengan Dyah Ajeng Anggraheni pada 2008. Setelah sempat bangkrut dan menjadi guru komputer, ketertarikannya pada dunia pemrograman meledak.
Semua dipelajari secara otodidak. Berbekal buku-buku pemrograman dan Excel dari Gramedia, Erfan tak lelah berlatih mandiri. Momen “kesadaran baru” datang ketika ia berhasil membuat program akuntansi untuk perusahaan selepan beras dan dibayar Rp7,5 juta, sebuah pengakuan pertama atas kemampuannya.
Puncaknya, ia berhasil menuntaskan proyek aplikasi berbasis website pertamanya dengan nilai kontrak mencapai Rp100 juta!
Neturmeric Lahir, Pandemi Jadi ‘Booster’ Kesuksesan
Tahun 2017, bersama rekannya Yoga, Erfan mendirikan Neturmeric di Bondowoso. Kantor pertamanya hanyalah ruang tamu berukuran 3×4 meter di rumahnya, yang kini menjadi ruang tamu keluarga dengan dua foto umroh terpajang di dinding.
”Kalau dulu saya bisa menawarkan barang dari pintu ke pintu, sekarang saya menawarkan aplikasi ke berbagai perusahaan. Prinsipnya sama: harus tahu kebutuhan pelanggan,” ujar Erfan, menyimpulkan bahwa pengalaman sales bertahun-tahun adalah modal berharga dalam bisnis teknologi.
Uniknya, Pandemi Covid-19 justru menjadi akselerator. Lonjakan kebutuhan digital membuat Neturmeric berkembang pesat. Kini, perusahaan tersebut telah melayani ratusan klien dari berbagai daerah di Indonesia, mengembangkan aplikasi untuk sistem keuangan, manajemen sekolah, hingga lelang ikan hias.
Di usia 40 tahun, pria yang sempat terhenti kuliahnya di semester lima ini tak hanya menikmati kesuksesan dengan aset rumah dan mobil, tetapi juga berhasil menyelesaikan pendidikan S2 di Institut Tekhnologi dan Sains Terpadu (ITST) Surabaya.
Kisah Erfan Febriantoro adalah bukti nyata: kerja keras, doa, ketekunan, dan keberanian mencoba hal baru adalah kunci sukses. Bondowoso membuktikan, kota kecil pun bisa melahirkan inovasi besar dan pengusaha tangguh yang siap bersaing di kancah nasional.





