Anak Cerdas, Keluarga Tangguh: Strategi Memilih Pasangan Hingga Mengawal Pendidikan Generasi Penerus Dakwah

oleh -
oleh

Kediri, ArahJatim.com —Ratusan peserta memadati Aula Masjid Agung Kota Kediri pada Selasa (8/10/2025) untuk mengikuti Seminar Parenting Islami bertajuk “Keluarga Tangguh, Anak Cerdas, dan Sekolah/Madrasah Unggul.” 

Acara hasil kerja sama Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Agama (yang diserahkan pelaksanaannya kepada UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung) ini menekankan peran sentral orang tua dan lingkungan dalam mencetak anak berkarakter dan berprestasi.

​Pentingnya Fondasi Keluarga dan Seleksi Pasangan

pasang iklan_rev3

​Anggota Komisi VIII DPR RI, K.H. An’im F. Mahrus, M. Pd, membuka seminar dengan menekankan bahwa membentuk keluarga tangguh harus dimulai sejak awal: seleksi pasangan. 

Beliau mengutip pandangan agar memilih pasangan yang religius (“orang yang mengingatkan kepada Tuhannya”).

​”Jika Anda memilih orang yang religius, insya Allah keturunannya akan jauh lebih baik. Ini adalah seleksi pemilihan yang luar biasa,” ujar K.H. An’im.

​Beliau juga menyoroti pentingnya keharmonisan rumah tangga sebagai faktor penentu utama.

 “Banyak sekali anak-anak yang kacau pendidikannya karena rumah tangga yang tidak harmonis,” tegasnya. K.H. An’im juga mengingatkan para suami tentang pesan Nabi Muhammad SAW: “Tidak ada orang yang memuliakan perempuan kecuali orang yang mulia, dan tidak ada orang yang menghinakan perempuan kecuali orang yang hina.”

Tiga Pilar Sukses Pendidikan Anak

​Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. Abd Aziz, M. Pd., memperkuat pesan ini dengan menekankan tiga pilar utama keberhasilan pendidikan anak: sekolah, rumah (keluarga), dan lingkungan.

​”Kesuksesan pendidikan anak itu ditentukan oleh tiga hal: sekolah, rumah, dan lingkungan,” jelas Prof. Aziz.

​Beliau juga menyoroti kesenjangan pendidikan saat ini, di mana sekolah sudah memiliki kurikulum yang jelas, namun pendidikan di rumah seringkali belum terstruktur. Prof. Aziz mengingatkan bahaya pola asuh yang tanpa disadari dapat menyesatkan, seperti menakut-nakuti anak dengan ancaman kebodohan. Ia menyebut fenomena anak-anak saat ini sebagai Generasi Alpha, yang menuntut pendekatan pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Anak Sebagai Aset Dakwah dan Tantangan Teknologi

​Sementara itu, narasumber Dr. Moh. Ilman Nafi’an, M. Pd, Dosen UIN Syekh Wasil Kediri, menawarkan perspektif mendalam: anak bukan sekadar aset materi, melainkan aset penerus dakwah Rasulullah SAW.

​”Anak itu aset yang paling berharga, lebih berharga dari emas. Karena salah satunya penerus dakwah Rasulullah itu ya anak kita nanti,” kata Dr. Ilman.

​Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS, sebagai teladan musyawarah dalam keluarga yang dimulai dengan kasih sayang. Dr. Ilman juga mengutip puisi inspiratif dari pendidik Amerika, Dorothy Law Nolte, “Children Learn What They Live” (Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami), yang menegaskan bahwa lingkungan yang penuh kasih sayang akan mengajarkan anak untuk menemukan cinta.

Menghadapi Era Teknologi dengan Pengawasan Ketat

​Menanggapi tantangan era modern, K.H. An’im F. Mahrus mengingatkan bahwa teknologi adalah pedang bermata dua. “Teknologi begitu canggih, satu sisi bisa memberi kemanfaatan, tetapi dari satu sisi lain bisa membawa efek yang negatif,” ujarnya, merujuk pada dampak media sosial dan gadget.

​Beliau mengimbau orang tua untuk lebih ketat mengawasi anak agar teknologi justru membantu kelancaran dalam mencari ilmu, bukan membawa dampak negatif. K.H. An’im juga menekankan tiga inti pendidikan yang harus diajarkan: akhlakul karimah, ketakwaan, dan keikhlasan, agar anak tetap dibutuhkan di era di mana mesin seperti Google tidak memiliki hati.

​Seminar ini ditutup dengan harapan besar bahwa kolaborasi antara keluarga, sekolah berkualitas, dan pengawasan orang tua yang cerdas akan menghasilkan generasi yang tangguh, cerdas, dan siap menyambut Indonesia Emas 2045. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.