Kediri, ArahJatim.com — Malam ini, suasana di Situs Persada Soekarno, Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, akan terasa berbeda. Beberapa warga dan komunitas dari berbagai daerah berkumpul untuk memperingati Hari Lahir Pancasila dengan cara yang jauh dari seremoni formal: merenung bersama di bawah pohon Kepuh bersejarah yang diyakini menjadi saksi awal penggalian nilai-nilai Pancasila oleh Bung Karno pada tahun 1918.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Tasyakuran Hari Pancasila, yang rutin digelar setiap tahun oleh komunitas Persada Soekarno Kediri. Tahun ini, tasyakuran dikemas secara lebih reflektif dan mendalam.
“Tasyakuran ini terbuka untuk umum dan sudah menjadi tradisi tahunan. Tapi tahun ini kita ingin mengajak masyarakat untuk lebih hening, merenung, dan bersyukur di bawah pohon Kepuh tempat Soekarno muda diyakini mulai menggali Pancasila,” ungkap Lukito Sudiarto, Ketua Panitia.
Mengusung tema “Apakah kita tidak bangga dan bersyukur memiliki Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia?”, kegiatan renungan akan berlangsung selama 17 menit dalam keheningan. Usai perenungan, peserta akan diberikan selembar kertas untuk menuliskan hasil renungannya, yang nantinya akan didiskusikan bersama dalam forum kebangsaan.
“Setelah itu, acara dilanjutkan dengan selamatan dan diskusi terbuka. Tujuannya agar peringatan Hari Lahir Pancasila ini tidak berhenti di seremoni, tapi menjadi penguat rasa syukur dan pemahaman mendalam atas Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa,” tambah Lukito.
Ketua Harian Situs Persada Soekarno, Kushartono, menekankan pentingnya memahami konteks sejarah di balik lahirnya Pancasila. Menurutnya, gagasan Pancasila bukan datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses perenungan panjang yang sudah dimulai jauh sebelum Bung Karno berpidato pada 1 Juni 1945.
“Bung Karno pernah berkata, ‘Aku tidak menciptakan Pancasila. Aku hanya menggali ke dalam bumi dan tradisi kami sendiri, dan kutemukan lima mutiara indah.’ Dan proses penggalian itu, dimulai sejak 1918 di Kediri ini. Maka merenung di tempat ini bukan hal sembarangan, ini adalah napak tilas sejarah bangsa,” jelas Kushartono.
Ia juga menambahkan bahwa dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, Bung Karno secara tegas menyebut bahwa Pancasila mulai digali sejak 1918 di Kediri, lalu berlanjut di Ende (1938) dan mencapai puncaknya di Jakarta (1945).
Sementara itu, aktivis kebangsaan dari Kampung Inggris Pare, Ari Hakim, mengungkapkan bahwa narasi tentang Kediri sebagai tempat awal penggalian Pancasila kini sedang dalam proses penulisan buku.
“Kami sudah mengkaji ini bertahun-tahun. Sekarang, kami sedang menyusun naskah buku berjudul *‘Bumi Kediri: Awal Mula Soekarno Menggali Pancasila 1918″. Meski masih berproses, kami yakin ini akan menjadi kontribusi penting bagi pemahaman sejarah bangsa,” ujar Ari.
Lebih dari Sekadar Upacara
Kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana Hari Lahir Pancasila bisa dirayakan secara bermakna. Di tengah arus globalisasi dan tantangan ideologis, renungan bersama di bawah pohon Kepuh bukan hanya simbol, tetapi bentuk nyata dari upaya menyentuh kembali akar-akar nilai luhur bangsa.
Kediri, yang selama ini dikenal sebagai kota sejarah dan spiritualitas, kembali menegaskan perannya dalam narasi besar Indonesia. Di tempat ini, nilai Pancasila bukan hanya dikenang, tetapi terus digali, dimaknai, dan diwariskan. (das)










