Kediri, ArahJatim.com – Sekitar 600 kiai dari berbagai daerah di Jawa Timur menghadiri acara Gerakan Masyarakat (Germas) Ayo Mondok yang diselenggarakan di Kediri. Kegiatan ini mengusung tema “Santri Melek Media”, sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan para santri untuk memahami dan memanfaatkan media secara bijak di era digital.
KH Zahrul Azhar Asumta, atau akrab disapa Gus Hans, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan paket lengkap. Dimulai dari sesi muhasabah, para peserta diajak untuk melihat dan mengakui kekurangan internal yang ada. “Kami membuka diri untuk evaluasi, menyadari bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki,” ujar Gus Hans.
Setelah muhasabah, dilanjutkan dengan halaqah untuk mencari solusi dan arah gerakan ke depan. Hari itu, fokus utama adalah bagaimana membangun sinergi antara pesantren dan media.
“Bagi kami, media itu penting. Media massa adalah mitra pesantren. Melalui tangan-tangan dingin para jurnalis, kami berharap pesantren bisa dilihat sebagaimana adanya – sebagai lembaga pendidikan yang kuat secara nilai dan budaya,” jelasnya.
Gerakan Ayo Mondok sendiri bertujuan menyosialisasikan kepada publik tentang pesantren yang sesungguhnya, serta mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa pesantren adalah pilihan utama dalam mendidik anak-anak, khususnya dalam membentuk karakter bangsa.
Menurut Gus Hans, salah satu tantangan ke depan adalah bagaimana menjadikan santri sebagai pelaku aktif dalam dunia digital. “Jika media digital dikelola oleh orang-orang pesantren, mereka tidak akan tega menyebarkan informasi yang tidak benar. Mereka akan menyampaikan informasi sesuai dengan kebenaran yang mereka pahami,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga adab dan karakter dalam dunia digital. “Pendidikan di pesantren berbeda. Di sini, adab itu nomor satu, bahkan di atas ilmu.”
Ketika ditanya soal kesalahan internal yang sempat dibahas dalam sesi muhasabah, Gus Hans menjawab diplomatis, “Kami tidak membuka aib sendiri. Yang jelas, kami diskusikan secara tertutup dan dengan bahasa yang baik. Yang ingin tahu, sebaiknya koreksi diri sendiri dulu.”
Ke depan, pihaknya akan menggelar pelatihan jurnalistik dan public speaking kepada para santri dan pengasuh pesantren. Harapannya, akan muncul generasi baru yang siap menjadi host dan juru bicara pesantren di media nasional. “Saya selama ini jadi host program tentang pesantren di TV nasional. Nanti, biarlah santri yang menggantikan posisi saya.”
Gus Hans menutup dengan optimisme: “Alhamdulillah, antusiasmenya tinggi. Sudah ada 654 pendaftar dari Jawa Timur saja. Ini bukti bahwa dunia pesantren siap bertransformasi secara digital.” (das)










