Jember, ArahJatim.com – Ada yang menarik dari geliat karya sekelompok jurnalis warga yang menamakan diri JW Suwar-Suwir Jember. Kelompok ini beranggotakan masyarakat dari kalangan inklusi termasuk difabel.
Selain menulis berita, baru-baru ini mereka berhasil merampungkan sebuah film dokumenter.
“JW Suwar-Suwir Jember sudah berkiprah sejak tahun 2021. Harapannya dari kegiatan yang kami lakukan, ke depan banyak warga yang tertarik meliput peristiwa atau masalah di sekelilingnya, utamanya untuk mengkritisi kebijakan publik,” ujar Fitriyah Fajarwati, Koordinator JW Suwar-Suwir Jember.
Film dokumenter bertajuk “Kiprah Jurnalis Warga Suwar-Suwir” tersebut mengangkat cerita tentang kiprah sejumlah anggotanya yang menulis berbagai permasalahan di lingkungannya. Tulisan mereka itu mendapat tanggapan pihak-pihak terkait hingga berdampak positif utamanya terhadap kebijakan publik.

Sebagai contoh kisah jurnalis warga bernama Suminah yang sehari-hari bertugas sebagai Kepala Sekolah Negeri 02 Sukorejo di Kecamatan Bangsalsari. Dia menceritakan pengalamannya menulis artikel tentang kehidupan seorang nenek yang hidup sebatang kara. Alhasil tulisannya mendapat perhatian, hingga sang nenek itu akhirnya mendapat tempat perawatan di panti jompo.
“Ini merupakan pengalaman luar biasa bagi saya, karena berkesempatan menulis sekaligus memberikan advokasi,” kata Suminah.
Adegan berikutnya menceritakan kisah Mukhis yang menulis tentang persoalan sampah yang belum terkelola dengan baik di desanya. Kritikan anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Desa Sukorambi Jember itu pun berdampak dibangunnya tempat-tempat pembuangan sampah di desa tersebut.
“Waktu itu kepala desa setempat meminta hal itu menjadi hasil musyawarah desa (MUSDES), lalu dari dasar tersebut sekarang sampah dikelola dengan baik. Ada tukang sampah keliling yang mengambil sampah warga,” kenang Mukhlis.
Kisah menarik lainnya diungkapkan Moh Zainuri Rofi’i, guru salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kecamatan Kaliwates Jember. Rofi’I, anggota JW Suwar-Suwir yang juga seorang difabel menulis tentang masalah yang sering dialami kaum difabel saat menggunakan fasilitas umum.
“Saya lihat di alun-alun, kaum difabel kesulitan akses masuk ke trotoar karena ada pagar pembatas. Kemudian saya tulis untuk jurnalis warga, dari situ mendapat respons positif dari Dinas Bina Marga Jember,” ungkap Zainuri.
Film dokumenter berdurasi 10 menit itu digarap oleh sejumlah anggota jurnalis warga Suwar-Suwir Jember selama dua bulan. Pada hari Rabu (31/7) lalu film dokumenter tersebut akhirnya ditayangkan perdana dalam kegiatan festival bertemakan “Festival Jurnalis Warga Suwar-Suwir Jember Terus Bergerak Mewujudkan Perubahan Untuk Keadilan” di Gedung Juang 45, Jember.
Lili HS, Program Manajer Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dalam sambutan di acara tersebut mengatakan bahwa para jurnalis warga tersebut telah melewati masa-masa pelatihan. Selain dari Jember peserta pelatihan juga ada dari Manokwari, Wamena, Kupang, Banten, Luwu Utara, dan Aceh. Arah peliputannya difokuskan pada isu-isu pelayanan publik.
“Ini untuk mendorong partisipasi warga, meliput untuk menyuarakan suara publik yang tidak terekspos media lokal agar menjadi kontrol pemerintah daerah,” paparnya. (nursalim)










