Kediri, ArahJatim.com — Fenomena ketiadaan peran emosional dan psikologis sosok ayah (fatherless) kini menjadi perhatian serius banyak pihak. Mengantisipasi dampak buruk fenomena ini terhadap tumbuh kembang anak, anggota DPR RI Dapil Jatim VI, Pulung Agustanto, S.I.P., menggandeng Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur merangkul warga Kabupaten Kediri melalui agenda sosialisasi dan wawancara edukatif.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Grogol, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri pada Kamis (15/10/2026) ini menghadirkan wawancara mendalam bersama Pulung Agustanto serta Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, SE., M.Si. Keduanya mengupas tuntas tantangan pengasuhan anak di era modern dan pentingnya kolaborasi orang tua di dalam rumah tangga.
Fatherless: Saat Ayah Ada Secara Fisik, Namun Absen Secara Emosional
Sukamto, SE., M.Si. membeberkan bahwa fenomena fatherless kerap tidak disadari oleh masyarakat. Banyak keluarga menganggap kewajiban sosok ayah selesai setelah memberikan nafkah materi. Padahal, ketiadaan ikatan emosional antara ayah dan anak menyimpan dampak jangka panjang yang cukup mendalam.
“Banyak anak yang tumbuh dengan ayah yang hadir secara fisik di rumah, tetapi secara psikologis dan emosional mereka merasa asing. Ayah hanya dianggap sebagai pemberi uang jajan, tanpa ada ruang percakapan hangat atau perhatian mendasar. Budaya yang menempatkan ayah murni sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai pengasuh tunggal harus kita benahi bersama,” ujar Sukamto.
Ia menjelaskan bahwa ketiadaan figur ayah dapat memicu masalah emosional dan perilaku. Anak berisiko mengalami penurunan percaya diri, perasaan tidak aman (insecure), krisis identitas, hingga kendala dalam kemampuan berpikir logis dan menyelesaikan masalah di sekolah.
Pulung Agustanto: “Pengasuhan Anak Adalah Kerja Tim”
Menanggapi hal tersebut, Pulung Agustanto, S.I.P. menegaskan perlunya perubahan cara pandang masyarakat mengenai pola pengasuhan anak (parenting). Menurut Anggota DPR RI Dapil Jatim VI ini, anak-anak tidak menuntut sosok orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau hadir secara utuh.
“Pengasuhan anak bukanlah tugas ibu semata, melainkan kerja tim antara ayah dan ibu. Ketiadaan peran ayah tidak bisa digantikan hanya dengan materi. Kita ingin mendorong para ayah di Jawa Timur, khususnya di Kediri, untuk mulai mengambil peran aktif sejak anak berusia dini,” tegas Pulung Agustanto.
Pulung menambahkan, langkah menghadirkan sosok ayah sebenarnya bisa dimulai dari rutinitas sederhana sehari-hari.
“Tidak perlu muluk-muluk. Alokasikan waktu berkualitas (quality time) setidaknya 15 menit sehari tanpa gangguan gawai atau ponsel. Temani anak belajar, ajak mengobrol, berikan pujian, dan tunjukkan kasih sayang. Sentuhan emosional sederhana seperti ini akan sangat mengubah arah tumbuh kembang dan mental anak kita,” tambahnya.
Komitmen Bersama Mewujudkan Keluarga Berkualitas
Acara yang digelar di Kantor Desa Grogol ini mendapat antusiasme tinggi dari warga setempat. BKKBN Jawa Timur bersama jajaran legislatif berkomitmen untuk terus menggalakkan edukasi pengasuhan responsif guna mencetak generasi muda yang tangguh, percaya diri, dan memiliki ketahanan emosional yang kuat demi menyongsong masa depan.










