Jurang Bekas Tambang Capai 30 Meter, Warga Puncu Kediri Pasang Spanduk “STOP Tambang Pasir” Selamatkan Mata Air

oleh -
oleh

Kediri, ArahJatim.com — Bayang-bayang krisis air bersih kian nyata menghantui ribuan jiwa di lereng pegunungan Kabupaten Kediri. Tak ingin desa mereka dilanda kekeringan makin parah, puluhan warga Desa Satak dan Desa Puncu, Kecamatan Puncu, turun ke jalan menyuarakan penolakan tegas terhadap aktivitas penambangan pasir di wilayah mereka, Ahad (9/8/2026).

​Aksi moral bertajuk “STOP! Penambangan Pasir, Warga Kec. Puncu Menolak Adanya Tambang Pasir, Selamatkan Mata Air, Lindungi Lingkungan, Jaga Masa Depan” tersebut digelar bertepatan dengan giat kerja bakti membenahi jaringan pipa air bersih swadaya yang terus-menerus terancam rusak.

​Warga khawatir, pengerukan pasir masif menggunakan alat berat akan menggerus struktur tanah dan mematikan sumber mata air alami yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.

pasang iklan_rev3

Debit Air Menyusut dan Jaringan Pipa Swadaya Rusak

​Dampak pengikisan lahan akibat aktivitas tambang kini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan pahit yang saban hari dirasakan warga. Mujianto (74), Ketua RW 01 Dusun Yani 1 Desa Satak, menceritakan betapa mengkhawatirkannya ketersediaan air bersih di wilayahnya saat ini.

​”Kerja bakti ini kami lakukan untuk memperbaiki pipa saluran air sekaligus menyetop penggalian pasir di wilayah Damarulan. Sumber air di sini semakin mengecil. Kalau musim kemarau tiba, warga Desa Satak dan Puncu bisa kekurangan air minum,” ungkap Mujianto di sela-sela aksi.

​Mujianto menambahkan, operasional alat berat (bego) yang berlangsung bertahun-tahun telah memicu kerapuhan struktur tanah di kawasan perbukitan. Akibatnya, tebing-tebing di tepi sungai sering longsor dan merusak pipa air warga.

​”Dulu kawasan ini pernah ditanami 1.000 pohon penghijauan, tapi habis ditebangi. Pohon peneduh seperti jati dan mahoni juga ikut hilang. Sejak tambang masuk, tanah dikeruk hingga pipa-pipa air kami berjatuhan,” tuturnya memprihatinkan.

Ancaman Jurang Dalam 30 Meter dan Hilangnya Resapan Air

​Dampak kerusakan ekosistem fisik juga disuarakan oleh Suyitno (70), warga Lingkungan Yani 1 Desa Satak. Ia menunjukkan betapa dahsyatnya perubahan bentang alam yang dipicu penambangan pasir sejak beberapa tahun lalu.

​Menurut Suyitno, alur sungai yang dulunya relatif rata kini berubah menjadi jurang menganga yang sangat membahayakan.

​”Dulu tanah di sini rata. Tapi setelah ada penggalian pasir sekitar tahun 2017, lahannya terus tergerus. Sekarang kedalaman pengerukannya sudah mencapai sekitar 30 meter,” jelas Suyitno sembari menunjuk ke arah tebing curam di area sungai.

​Pengerukan yang kian dalam ini mengancam kestabilan tanah di sekitarnya, termasuk jalur pipa swadaya yang menjadi tumpuan utama pasokan air bagi ribuan kepala keluarga.

Mata Air Swadaya: Penopang Hidup dan Ekonomi 4.000 Jiwa

​Bagi masyarakat Desa Satak, pasokan air dari mata air pegunungan bukan sekadar penumpas dahaga, melainkan penyambung nafas perekonomian warga yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

​Mesji (75), warga Lingkungan Yani 2 Desa Satak, menegaskan betapa berharganya saluran air yang mereka bangun secara mandiri tanpa menyusahkan pemerintah.

​”Sekitar 4.000 jiwa di Desa Satak bergantung pada mata air ini. Saluran air ini dibangun murni dari swadaya masyarakat, tidak pernah memakai dana pemerintah. Dulu airnya sangat melimpah dan jernih, tapi belakangan ini kalau pasokan keruh, warga harus keluar biaya beli air galon,” papar Mesji.

​Kondisi kekeringan bahkan sempat begitu parah hingga wilayah mereka harus mendapat pasokan air bersih darurat dari armada tangki BPBD. Warga berharapan besar agar pemerintah segera mengambil langkah tegas menutup aktivitas tambang pasir secara permanen.

​”Kami hanya ingin penggalian ini dihentikan total. Biarkan sumber air ini tetap mengalir lancar agar bisa menghidupi anak, cucu, dan generasi masa depan kami,” harapnya.

Kekhawatiran Warga dan Polemik Izin PT EPAS​

Kepanikan warga Desa Satak dan Puncu kian memuncak setelah beredar kabar bahwa aktivitas tambang oleh PT Empat Pilar Anugerah Sejahtera (EPAS) akan kembali beroperasi. Padahal, operasional tambang tersebut telah dihentikan oleh Dinas ESDM Jatim sejak 2025.​

Aktivitas tambang PT EPAS juga berdampak serius pada infrastruktur dan keselamatan warga:​

  • Hilangnya Mata Air: Warga terpaksa membeli air bersih dari desa tetangga.​
  • Kerusakan Jalan & Korban Jiwa: Truk bermuatan 10–15 ton merusak jalan desa berkapasitas 5 ton, yang mengakibatkan kecelakaan hingga menelan 3 korban jiwa. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.