Kediri, ArahJatim.com – Pagi yang cerah di Kelurahan Tosaren berubah menjadi panggung warna-warni budaya, Minggu (6/12/2025). Ratusan peserta dari berbagai kelompok seni dan masyarakat tumpah ruah memenuhi jalan-jalan kampung, mengikuti Parade Budaya 2025 yang digelar Pokmas Harmoni Budaya.
Tidak hanya sekadar karnaval, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya identitas, kebanggaan, dan kerukunan warga.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan, Dinayana Kristian, anggota Dewan Partai PAN, yang menginisiasi acara, menyambut warganya dengan senyum lebar. Ia mengikuti langsung dari titik start di halaman Kelurahan Tosaren, sembari memastikan setiap kelompok tampil maksimal.
“Ini Aspirasi Masyarakat, Saya Hanya Menjembatani”
Dalam wawancara singkat, Dinaya menjelaskan bahwa parade ini lahir dari keinginan warga sendiri.
“Kegiatan pagi hari ini untuk memperingati Hari Pahlawan bertema Bersatu dalam Keberagaman, Guyup dalam Budaya, Mbak Dinamu Mbak Dinaku. Ini serangkaian kegiatan dari jaring aspirasi masyarakat. Warga ingin menampilkan budaya, khususnya dari Tosaren,” ujarnya.
Tidak hanya dari Tosaren, beberapa kelompok seni dari kelurahan lain juga ikut meramaikan, termasuk dari Tinalan dan Pak Kunden. Tahun ini, salah satu yang paling ditunggu adalah penampilan Barongsai dari sebuah klenteng di Kota Kediri.
“Dua tahun lalu kita menampilkan Gramben, tahun ini istimewa karena ada Barongsai. Barongsai itu kan juga budaya, bagian dari keberagaman kita,” tambah Dina.
40 Kelompok Tosaren, 6 Partisipan Luar: Karnaval Penuh Warna
Total terdapat 46 kelompok budaya yang ikut serta. Sebagian besar merupakan warga Tosaren sendiri, mulai dari paguyuban budaya hingga kelompok-kelompok seni yang aktif di lingkungan.
“Dari Tosaren ada 40 kelompok. Ditambah partisipan dari Tinalan, Pak Kunden, paguyupan budaya, dan Barongsai—total 6 kelompok dari luar,” jelas Dina.

Parade ini juga melibatkan dua kelompok jalanan yang menampilkan kreativitas anak-anak. Bagi Dinaya, keikutsertaan anak-anak adalah sinyal positif bahwa budaya bisa terus diwariskan lintas generasi.
Bukan Lomba, Tapi Ruang Ekspresi
Sejak awal, parade ini ditegaskan bukanlah kompetisi. Tidak ada piala, skor juri, atau pemenang.
“Kalau dilombakan nanti malah persaingan. Kita ingin semua mengeksplor kreativitas masing-masing lingkungan. Biar jadi ruang ekspresi, bukan kompetisi,” terangnya.
Paguyuban, RT, RW, hingga pelaku UMKM turut mendukung. Dinaya menyebutkan dua sosok yang berperan besar di balik layar: Ketua Pokmas Tony dan Ketua Panitia Azhar, yang disebutnya “motor penggerak masyarakat”.
Rute Karnaval: Dari Tosaren Hingga Lapangan Bola Foli
Rute karnaval dimulai dari Kelurahan Tosaren, mengarah ke timur menuju Lampu Merah, lalu ke barat melalui Jalan Lejen S. Parman, kemudian belok ke barat di perempatan Baruna, dan berakhir (finish) di lapangan Bola Voli setelah melewati lingkungan tirtoudan.
Sepanjang rute, warga berdiri di pinggir jalan, antusias menyambut setiap penampilan budaya: kostum tradisional, musik khas lingkungan, sampai pertunjukan Barongsai yang menjadi pusat perhatian.
Melestarikan Budaya, Menyatukan Warga
Bagi Dinaya Kristan, Parade Budaya 2025 bukan sekadar agenda peringatan Hari Pahlawan. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai upaya terus-menerus menjaga akar budaya yang hidup di masyarakat.
“Ini bagian dari melestarikan budaya di Kota Kediri. Saya hanya menampung aspirasi masyarakat yang ingin budayanya tetap tumbuh, tetap hidup,” kata Dinayana.
Suasana guyub terasa dari awal hingga akhir acara, sebuah harmoni yang menjadi gambaran nyata keberagaman Kota Kediri.
Penutup: Dari Warga Untuk Warga
Parade Budaya 2025 menjadi bukti bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan, bukan sekat. Dan lewat kegiatan seperti ini, Tosaren menunjukkan bahwa budaya adalah jati diri yang harus dirawat bersama.
Dinaya Kristan pun berharap kegiatan ini dapat berlangsung setiap tahun dengan semangat yang sama: kebersamaan, kebanggaan, dan penghormatan terhadap budaya lokal. (das)










