Kediri, 18 November 2025 — Di tengah hiruk pikuk percepatan digital, nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial kembali digaungkan sebagai jangkar utama keberlanjutan bangsa. Hal ini menjadi sorotan tajam dalam refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 yang disampaikan oleh Imam W. Zarkasyi, ST., MM., Koordinator Presidium Majelis Daerah KAHMI Kota Kediri.
Menurut Imam, laju teknologi telah menciptakan “kemiskinan baru”: jurang pemisah antara digital-native dan mereka yang tertinggal dalam literasi dan akses teknologi. Dalam konteks inilah, ajaran fundamental Teologi Al-Maun menemukan panggung relevansinya yang paling vital.
“Semangat Al-Maun bukan sekadar mengajarkan kita untuk menolong, tetapi untuk memberdayakan. Inilah spirit yang dibutuhkan bangsa di era disruptif, keberagamaan yang melahirkan keberpihakan nyata kepada yang lemah,” tegas Imam W. Zarkasyi.
Menjawab: Siapa Yatim & Dhuafa di Era Digital?
Imam W. Zarkasyi mengajak publik merumuskan kembali definisi “yatim” dan “dhuafa” di Abad ke-21. Tantangan hari ini, katanya, tak hanya soal kemiskinan harta, tetapi juga ketertinggalan literasi digital, erosi empati sosial, dan pekerja yang tergeser oleh otomatisasi.
Yatim dan Dhuafa Digital yang dimaksud, meliputi:
- Generasi muda tanpa akses literasi digital yang memadai.
- Pekerja yang tergeser teknologi tanpa kesempatan pelatihan ulang (reskilling).
- Warga yang kehilangan kesempatan belajar keterampilan baru di tengah perubahan lanskap kerja yang cepat.
Pesan Al-Maun yang dahulu menggerakkan KH. Ahmad Dahlan membangun sekolah dan rumah sakit, kini harus diterjemahkan dalam aksi: pemberdayaan digital, transformasi ekonomi, dan keadilan teknologi.
Empat Langkah Strategis: Menggairahkan Al-Maun Generasi Baru
Untuk memastikan semangat Al-Maun terus menyala sebagai fondasi gerakan kemanusiaan modern, Imam W. Zarkasyi menyampaikan empat agenda kebangkitan yang harus diemban oleh generasi penerus Muhammadiyah:
- Transformasi Amal Usaha (AUM) sebagai Ruang Inovasi Sosial: Sekolah, kampus, dan rumah sakit harus menjadi pusat inovasi yang melahirkan riset, teknologi, dan start-up sosial berbasis nilai kemanusiaan.
- Aktivisme Digital yang Berjiwa Al-Maun: Kader muda didorong menggunakan ruang digital sebagai medium dakwah berkemajuan, advokasi sosial, dan penggerak solidaritas nyata.
- Gerakan Ekonomi Umat yang Berkelanjutan: Al-Maun Abad ke-21 menuntut pemberdayaan ekonomi berbasis kewirausahaan dan teknologi, bukan lagi hanya bantuan karitatif.
- Kepemimpinan Berbasis Kesalehan Sosial: Pemimpin harus meneladani gaya KH. Ahmad Dahlan: bekerja dengan ilmu, dekat dengan umat, dan berani membela kelompok yang termarjinalkan.
“Muhammadiyah telah membuktikan selama 113 tahun bahwa agama bisa menjadi motor kemajuan. Tugas generasi kita adalah memastikan Al-Maun bukan hanya dibaca, tetapi diperjuangkan dalam tindakan nyata,” pungkas Imam.
Di usia yang ke-113, Muhammadiyah dinilai bukan sebagai organisasi tua, melainkan sebagai gerakan modern yang selalu relevan dan berperan penting menuntun Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, berkeadaban, dan berkemajuan. (das)










