Banyuwangi, ArahJatim.com – Tahun ini jumlah pemudik yang menggunakan jasa penyeberangan di Pelabuhan Ketapang diprediksi mengalami peningkatan dari tahun lalu sekitar 15 persen. Menghadapi lonjakan penumpang tersebut, ASDP Indonesia Ferry Ketapang, Banyuwangi, menyiagakan 56 armada kapal di perairan Selat Bali.
Tidak hanya itu, pihak ASDP Indonesia Ferry juga menambah loket di pintu masuk Pelabuhan Ketapang guna mengurai antrean kendaraan di depan loket saat mudik nanti. Prediksi meningkatnya jumlah pemudik akibat dibukanya jalur tol Trans Jawa yang terhubung dari Jakarta hingga Probolinggo. Peningkatan diprediksi akan didominasi kendaraan roda empat.
”Prediksi tahun ini akan ada peningkatan jumlah pemudik secara nasional. Imbas beroperasinya jalur Tol Jakarta hingga Probolinggo membuat jalur darat akan menjadi pilihan masyarakat yang akan mudik. Penambahan loket juga kami lakukan. Berkaca dari tahun lalu, kendaraan banyak yang ngantre di depan loket, padahal di parkir pelabuhan masih kosong. Itu berarti loketnya perlu ditambah,” kata Fahmi Alweni, General Manajer ASDP Ketapang.
Saat ini dari 56 kapal ferry yang disiagakan, 30 armada dioperasikan setiap harinya, dengan rincian 20 unit akan dioperasikan di lintasan dermaga MB dan dermaga ponton. Sedangkan 10 unit lainnya akan di operasikan di dermaga LCM.

Sebelumnya, pihak ASDP Indonesia Ferry juga telah melakukan persiapan lain untuk menghadapi angkutan lebaran 2019, diantaranya perbaikan dermaga, loket dan area parkir pelabuhan.
Sementara itu Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Refdi Andri bersama rombongan memantau jalur mudik Lebaran Idul Fitri 2019, di Pelabuhan Ketapang, Sabtu (18/5/2019) siang.
Usai melihat situasi dan kondisi pelabuhan, rombongan Korlantas langsung melakukan paparan bersama ASDP. Dari pemaparan General Manager (GM) ASDP Indonesia Ferry Ketapang, seluruh persiapan mudik dan balik sudah dipersiapkan, begitu juga dengan pengamanan dari Polres Banyuwangi.
“Setelah mendengar pemaparan dari ASDP kami mengucapkan banyak terima kasih. Tapi yang paling penting adalah, segala sesuatu yang dilakukan di sini khusus untuk pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk ini sudah ditata sedemikian rupa. Sehingga untuk memastikan, khususnya bagi masyarakat yang melaksanakan mudik dan balik selama operasi ketupat dapat merasa aman dan nyaman,” kata Refdi.
Untuk diketahui, arus mudik dan balik di tahun 2018 lalu dari pelabuhan Gilimanuk-Ketapang, mencapai 490 ribu orang dengan kepadatan atau puncak arus mudik terjadi antara H-3 sampai H-2. Sedangkan untuk arus balik, mulai terjadi peningkatan pada H+3
“Tadi dijelaskan, menjelang hari H, jumlah masyarakat yang mudik di tahun lalu dari Bali jumlahnya 490 ribu dan puncaknya di H-2 atau H-3,” pungkas Refdi. (ful)











