Tulungagung, ArahJatim.com – Hari pertama belajar di Minggu kedua bulan September, sekolah negeri di Tulungagung tidak berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan, sekitar jam 8.10 wib, Senen 5/9/2022 ratusan pelajar melakukan demo. Mereka berkumpul dihalaman sekolah sambil membawa poster, dan melakukan aksi orasi. NN, salah satu siswi di SMKN itu menyampikan keberatan keberatan terkait banyaknya uang tarikan dari sekolah. Hal ini sangat kontradiktif dengan uang tarikan tarikan sebelumnya , yang ternyata menurutnya tidak ada hasil kongkrit, untuk pembangunan apa.
” Kami ini jangan terus dibebani tarikan tarikan, coba hasil uang tarikan yang dulu itu buat apa ? Fasilitas olah raga, tempat parkir, mana itu ?”, ungkapnya saat memberi penjelasan kepada ArahJatim.com.
Sementara dalam pantauan media ini, para guru baru hadir sekitar 8.30 wib, ditengah tengah mereka. Kehadiran para guru juga di dampingi aparat kepolisian yang juga hadir di lokasi. Sebagi sambutan pertama, salah seorang guru menanyakan, apakah cara demo seperti ini, pantas dilakukan para siswa. Karena terpancing, ratusan pelajar itu kompak menjawab ” pantas, karena banyak tarikan dana “.
Seperti yang terjadi, demo ini adalah meminta transparansi dana dana yang sudah ditarik dari para orang tua siswa, digunakan untuk apa. Sementara dalam pantauan, ketua komite sekolah, juga hadir. Ketua komite Drs Winarto yang mantan kepala dinas pendidikan kabupaten Tulungagung, juga turut andil dalam menentukan jenis dan berapa serta apa tujuan penggalangan dana dari orang tua siswa. Bahkan salah seorang wali pelajar yang rumahnya ada di sekitar sekolah, menyayangkan kurangnya fasilitas sekolah, seperti tempat parkir yang tidak mencukupi, sehingga banyak pelajar yang menitipkan kendaraanya di tempat umum dengan membayar 2000 rupiah perhari. Terkait jumlah siswa, berdasar data yang ada, laki laki ada 688, dan putri, 1.906 anak.
Kepala sekolah SMKN I Boyolangu Tulungagung, Ariek Eko Lestari SPD, menyatakan, sebenarnya itu bukan tarikan bahasanya, tetapi sumbangan.
” Ya ini masalah kesalahpahaman saja, disekolah kami, memang menjalankan itu, tetapi namanya adalah sumbangan. Dan perlu diketahui, itupun juga belum semuanya nyumbang, jadi kalau uang segitu dikalikan jumlah siswa, itu tidak benar”, ungkap kepala sekolah perempuan itu.
Sementara ketika dimintai tanggapannya, ketua komite Drs Winarto, mengaku apa yang terjadi ini adalah perlunya komunikasi yang lebih baik lagi, sehingga tidak ada hal hal yang menjadikan salah paham lagi, dirinya sambil menegaskan, itu adalah sumbangan, bukan tarikan, dan itupun belum semua uang yang masuk, adapun tujuan sumbangan itu untuk peningkatan mutu, katanya . (dni)












