Psikolog: Stres dan Takut Faktor Utama Pasien Covid-19 Kabur dari Ruang Isolasi

oleh -

Banyuwangi, Arahjatim.com – Akhir-akhir ini di berbagai daerah, banyak ditemukan kasus kaburnya pasien Covid-19 saat masih menjalani perawatan di ruang isolasi rumah sakit. Banyak dari pasien yang memilih pulang ke rumah lantaran mereka tidak betah di dalam ruang isolasi.

Selain itu, rasa was-was, dan takut akan stigma buruk yang diterima setelah menjalani perawatan juga menjadi pemicu para pasien memilih kabur dari rumah sakit. Padahal, hal tersebut sangat membahayakan keluarga, maupun orang terdekat mereka sendiri.

Karena dikhawatirkan virus yang menjangkiti pasien bisa menular ke keluarga maupun orang terdekat setelah kontak langsung selama mereka tak berada di ruang isolasi. Terlebih saat mereka kabur dan tidak mendapatkan perawatan sesuai penanganan pasien Covid-19 juga dikhawatirkan malah membuat kondisi pasien menjadi semakin drop dan berujung pada kematian.

Psikolog RSUD Blambangan Banyuwangi, Betty Kumala Febriawati S.Psi, M.Psi menjelaskan, selain faktor jenuh dan takut, faktor lain yang membuat pasien memilih kabur dari rumah sakit adalah kondisi dari pasien itu sendiri. Kebanyakan, pasien kabur adalah mereka memiliki kondisi tubuh sehat, namun dari segi pemeriksaan medis pasien tersebut terpapar Covid-19.

“Pasien kabur kebanyakan mereka yang kondisi fisiknya sehat, tapi secara medis mereka terjangkit Covid. Mereka merasa tidak sakit, jadi berada di ruang isolasi itu menjadi hal yang sangat membosankan. Mereka juga takut akan stigma buruk dari masyarakat, makanya memilih kabur,” kata psikolog yang biasa dipanggil Betty.

Betty menambahkan, perlu adanya pendekatan psikologi yang mendalam bagi pasien Covid-19 agar mereka tetap merasa nyaman saat berada di dalam ruang isolasi rumah sakit. Seperti yang dilakukan petugas medis di rumah isolasi RSUD Blambangan, Banyuwangi beberapa waktu lalu hingga viral di media sosial.

Baca Juga: Bertambah Satu, Pasien Positif Corona di Banyuwangi Jadi Empat Orang

Pasien dalam pengawasan (PDP) yang sudah merasa bosan saat menjalani karantina diajak berjoget lagu India agar mereka tidak jenuh dan lupa akan penyakit yang derita. Dengan kondisi psikologi yang baik, tentu akan meningkatkan imunitas tubuh dari pasien. Karena jika imunitas tubuh cukup, besar harapan pasien yang sedang menjalani isolasi akan sembuh dengan sendirinya.

Para pasien juga harus terus didoktrin bahwa apa yang sedang mereka alami bukanlah sebuah aib, melainkan hanyalah sebuah takdir dari sang pencipta yang memang harus dilewati dengan rasa optimis agar mereka bisa cepat sembuh.

“Maka dari itu, perlu ada pendekatan secara psikologis bagi pasien Covid ini. Kita harus membuat mereka benar-benar merasa nyaman saat berada di rumah sakit. Misalnya saja diajak bernyanyi, joget India seperti yang dilakukan tim medis di RSUD Blambangan, atau hal lain yang membuat pasien itu senang. Kalau mereka nyaman, tentu mereka akan kooperatif menjalani masa perawatan,” tambah Betty.

Baca Juga Bantu Masyarakat Hadapi Dampak Corona, Banyuwangi Siapkan Insentif untuk Santri

Selain tim medis, dukungan psikologis kepada pasien juga harus datang dari keluarga maupun orang terdekat dari seluruh pasien. Dengan banyaknya dukungan diharapkan bisa memicu semangat dari pasien yang sedang menjalani perawatan agar mereka bisa segera sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarga seperti sedia kala.

“Yang terpenting lagi, pasien itu harus optimis untuk sembuh. Mereka harus beranggapan bahwa penyakit yang dialami bukanlah sebuah aib, akan tetapi hanyalah rintangan yang harus mereka lewati untuk menuju kesembuhan. Berdoa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta juga yang paling terpenting, karena dengan doa, sebuah keyakinan untuk sembuh pastinya akan terbangun, dan itu akan mempengaruhi psikologi dari pasien itu sendiri,” pungkas psikolog yang beralamat di Lingkungan Grajaban, Banyuwangi ini. (ful)