Petugas RSUD Blambangan Banyuwangi Hibur Pasien PDP Dengan Karaoke Lagu India

oleh -

Banyuwangi, ArahJatim.com – Menjalani  isolasi sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 tentu menimbulkan suasana hati yang tak enak. Jenuh, pikiran galau, bahkan bisa stres. Kondisi ini pun berusaha dihilangkan oleh segenap tim kesehatan Covid-19 di RSUD Blambangan, Banyuwangi.

Para petugas RSUD Blambangan pun berinisiatif memberi hiburan kepada para pasien di ruang isolasi dengan beragam kegiatan. Salah satunya dengan mengajak berkaraoke bersama.

Seperti yang tampak pada video yang viral baru-baru ini. Tampak seorang petugas dengan alat pelindung diri lengkap mengajak para pasien di ruang isolasi untuk bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama lagu India yang enerjik.

Meski awalnya malu-malu, para pasien terlihat gembira, dengan ikut bergoyang pelan mengikuti irama musik. Para pasien tetap duduk di tempat tidurnya masing-masing, sedangkan petugas menghampiri satu per satu bed sambil mengajak bernyanyi layaknya musisi di sebuah konser.

“Karena ingin menghibur pasien yang kejenuhan, petugas menawarkan mereka untuk karaoke. Lalu salah satu pasien meminta diputarkan lagu India,” kata dr Roudhotul Ismailya Noor, Sp.PK (spesialis patologi klinik), salah satu dokter dalam tim Covid-19 di RSUD rujukan Banyuwangi tersebut.

“Akhirnya permintaan itu kami kabulkan, lagu India sesuai permintaan pasien kami setel lewat youtube dari ruang sebelah, dan terjadilah apa yang tampak dalam video,” imbuh dokter Emil, sapaan akrabnya.

Dokter Emil mengatakan, sejumlah pasien PDP yang berada di ruang isolasi RSUD Blambangan tersebut mulai mengalami kejenuhan karena beberapa di antaranya secara klinis sudah sehat dan telah berada di ruang isolasi selama lebih dari sepekan.

“Sebelumnya biasanya kami juga memutarkan tausiyah keagamaan untuk memberikan siraman rohani dan memotivasi mereka. Karena selain jenuh, beberapa pasien juga mengalami kondisi psikologi yang tertekan,” ujarnya.

Psikolog RSUD Blambangan Betty Kumala Febriawati membenarkan hal tersebut. Saat pertama kali mendampingi pasien PDP yang diisolasi, selain jenuh, pasien rata-rata dilanda kecemasan. Baik cemas dengan kondisi kesehatan tubuhnya hingga cemas dengan stigma masyarakat terhadap mereka.

“Kami memberikan semangat agar mereka tetap optimistis. Kami dorong agar fokus dulu pada kesehatannya agar imunitas tubuh terdongkrak. Untuk masalah stigma tidak perlu dipikirkan dulu, kami yakinkan jika penyakit ini bukanlah aib dan bisa disembuhkan,” kata alumnus Magister Profesi Psikologi Universitas Airlangga Surabaya itu.

“Alhamdulillah beberapa pasien yang tadinya terlihat murung, lemas, jadi lebih bersemangat. Yang tadinya hanya tiduran, jadi mau duduk bahkan sampai tertawa gembira selama konseling berlangsung,” ujar Betty yang memberikan konseling dua kali dalam sepekan. (adv.hmsbwi/ful)