Perkuat Harmoni Bangsa, Ketum LDII: Ramadan Adalah Sarana Moderasi Beragama yang Nyata

oleh -
oleh

​Kediri, ArahJatim.com – Di bawah langit Kediri yang teduh, geliat Ramadan 1447 H tidak hanya diisi dengan lantunan ayat suci di balik tembok pesantren. Lebih dari itu, sebuah gerakan kolektif sedang berlangsung—sebuah upaya untuk membuktikan bahwa ibadah paling mulia adalah yang memberi dampak bagi sesama.

​Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi warga LDII di seluruh Indonesia yang sukses menjalankan rangkaian agenda Ramadan. Baginya, momentum ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan panggung pembuktian moderasi beragama melalui aksi nyata.

Melampaui Target “5 Sukses Ramadan”

​Selama ini, LDII dikenal konsisten dengan program 5 Sukses Ramadan yang meliputi:

pasang iklan_rev3
  1. Sukses Puasa
  2. Sukses Salat Tarawih
  3. Sukses Tadarus Al-Quran
  4. Sukses Meraih Lailatul Qadar
  5. Sukses Zakat Fitrah

​Namun, KH Chriswanto menekankan bahwa keberhasilan tahun ini memiliki dimensi yang lebih luas. “Alhamdulillah, kegiatan Ramadan berjalan optimal dari pusat hingga kelurahan. Warga LDII mampu menjaga keseimbangan antara ibadah personal dengan kontribusi nyata dalam menjaga kerukunan dan kebersamaan,” ujarnya saat berada di Kediri, Rabu (26/3).

Ponpes Wali Barokah: Membumikan Al-Quran lewat Santunan

​Salah satu potret paling menyentuh terlihat di Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kediri. Di sini, agama tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi dipraktikkan sebagai kasih sayang. Melalui kegiatan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa, para santri diajak untuk “turun gunung” berinteraksi dengan masyarakat.

​Ketua Ponpes Wali Barokah, H. Sunarto, menegaskan pentingnya kesalehan sosial.

​”Kami ingin para santri memahami bahwa kesalehan individu harus dibarengi kesalehan sosial. Santunan ini adalah bentuk tanggung jawab kami memastikan anak-anak yatim di sekitar pondok juga merasakan kebahagiaan bulan suci,” jelasnya.

Garda Terdepan di Tangan Pemuda

​Hal menarik lainnya dalam Ramadan tahun ini adalah dominasi peran generasi muda. Dari pengelolaan manajemen masjid hingga distribusi logistik bantuan, pemuda LDII menjadi motor penggerak utama.

​Menurut KH Chriswanto, keterlibatan aktif pemuda ini adalah investasi jangka panjang untuk bangsa. Karakter disiplin dan berakhlakul karimah yang ditempa selama Ramadan diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menjaga harmoni dan persatuan nasional di masa depan.

Sinergi dan Moderasi Beragama di Kota Kediri

​Senada dengan visi pusat, Ketua DPD LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, terus mendorong warga untuk inklusif. Melalui kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) bersama jajaran Forkopimda hingga pembagian takjil gratis, LDII Kota Kediri ingin menunjukkan bahwa moderasi beragama adalah sebuah tindakan, bukan sekadar wacana.

​”Tujuannya satu: mempererat ukhuwah Islamiyah dan menunjukkan bahwa moderasi beragama itu hadir dalam bentuk aksi nyata yang merangkul semua kalangan,” pungkas H. Agung. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.