PDIP Minta Risma dan Pemprov Tidak Melibatkan Rivalitas Politik Dalam Penanganan Covid-19

oleh -

Surabaya, ArahJatim.com – Kurang harmonisnya hubungan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini mulai ramai diberitakan oleh banyak media. Sekretaris PDI Perjuangan Hasto Kristianto meminta agar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan pihak Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur dapat lebih bijak dan melihat skala prioritas dalam mengambil kebijakan penanganan virus corona (Covid-19) di Jawa Timur.

Hal itu disampaikan Hasto pasca kekesalan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani usai tidak kunjung mendapatkan dua mobil tes virus corona dengan metode PCR yang berasal dari bantuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Nasional.

Baca Juga : Darurat Corona, Khofifah Anjurkan Masyarakat Jatim Untuk Salat Jumat di Rumah

Hasto juga menyampaikan agar tidak melibatkan rivalitas politik dalam penanganan Covid-19 tersebut, yang mana dapat merugikan masyarakat.

“PDI Perjuangan berharap agar Gubernur dan Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur dapat lebih bijak dan mampu melihat skala prioritas atas setiap kebijakannya dengan memerhatikan kepentingan rakyat, tanpa perlu menghadirkan rivalitas politik yang tidak perlu, dan harus menghindari ego kepemimpinan,” kata Hasto dalam keterangan resminya, Sabtu (30/5).

Lebih lanjut, Hasto menyayangkan bila bantuan dua mobil laboratorium dari BNPB untuk Kota Surabaya dipindahkan tanpa mempertimbangkan skala prioritas. Terlebih lagi, Surabaya saat ini menjadi salah satu kota dengan angka penularan virus corona yang cukup mengkhawatirkan di Jawa Timur.

Menilik website  infocovid19.jatimprov.go.id yang diakses pada Sabtu (30/5) pukul 07.00 WIB, jumlah pasien positif corona di Jawa Timur sudah mencapai angka 4.409 orang. Dari total angka itu, Kota Surabaya memiliki pasien positif corona sebanyak 2.394 orang.

“Sangatlah disayangkan jika bantuan dua mobil laboratorium dari BNPB untuk Kota Surabaya dipindahkan tanpa mempertimbangkan skala prioritas dan aspek strategis di dalam pencegahan Covid-19 di Kota Pahlawan tersebut,” kata Hasto dikutip dari CNN.

Hasto juga meminta agar dalam situasi pandemi seperti saat ini, otoritas terkait agar lebih mengedepankan kebersamaan untuk membantu kepentingan rakyat dalam menghadapi virus corona.

“Dalam situasi yang tidak mudah seperti ini, musyawarah, gotong royong, kemanusiaan, serta keberpihakan bagi rakyat harus di kedepankan,” kata Hasto

Sebelum terjadi kisruh berebut mobil tes Covid-19 antara Pemkot Surabaya dengan Pemprov Jawa Timur. Bahkan nama Tri Rismaharini masuk dalam jajaran trending topic Twitter pada Jumat (29/5) malam.

Baca Juga : Risma Sempat Ingin Demo Lantaran Warganya Tak Tertampung Di RS Rujukan

Risma menilai mobil tes PCR dari BNPB awalnya akan dipakai oleh warga Kota Surabaya. Namun hingga masyarakat berkumpul, mobil tak kunjung datang. Mobil itu kemudian diketahui digeser ke Tulungagung dan Lamongan oleh Gugus Tugas Jawa Timur yang berada di bawah naungan Pemprov.

“Teman-teman lihat sendiri kan, ini bukti permohonan saya dengan Pak Doni, jadi ini saya sendiri yang memohon kepada beliau. Kasihan pasien-pasien yang sudah menunggu,” kata Risma sambil menunjukkan percakapan dengan Doni kepada media di Surabaya, Jumat (29/5).

Sebaliknya, Ketua Rumpun Logistik Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur yang juga sekaligus Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Suban Wahyudiono masih meyakini pihaknya yang lebih dulu mengajukan bantuan mobil tes.

Suban mengklaim pihaknya tidak menyerobot bantuan dua unit mobil PCR seperti yang diklaim Risma. Ia merasa telah mengirimkan surat permohonan kepada Gugus Tugas Pusat terlebih dahulu. (*)