Menakar Kesuksesan Sepak Bola Indonesia

oleh -
Sepak bola dan uang

Surabaya, Arahjatim.com – Jika berbicara tentang sepak bola, tak cukup rasanya jika tidak mengikutsertakan masyarakat Indonesia dengan kefanatikannya. Entah dimulai sejak kapan kefanatikan mereka mulai menyeruak kepada khalayak ramai. Berbagai ekspresi mereka tunjukkan, dimulai dari bentuk dukungan kepada tim kesayangan dengan datang langsung ke stadion, hingga perlakuan rasis dan anarkis mereka tunjukkan kepada masyarakat dunia.

Fenomena tersebut merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari dunia sepak bola. Lucunya orang Indonesia begitu naif dengan menambahkan sesuatu yang bersifat pribadi dalam urusan sepak bola nasional, keuntungan pribadi, kelompok, maupun partai politik yang selama ini menaungi mereka. Tentu ini tidak membicarakan para penggemar yang selalu setia hadir menemani tim kesayangannya berlaga di setiap pekan. Tapi lebih kepada stakeholder sepak bola Indonesia yang bernaung di bawah asosiasi sepak bola yang resmi didirikan oleh pemerintah.

Baru-baru ini PSSI menyatakan akan melakukan KLB kembali yang akan digelar 2 November besok. PSSI memajukan agenda KLB yang dijadwalkan FIFA pada 2 Januari mendatang. Alih-alih ingin mereformasi keadaan sepak bola tanah air yang begitu rumit dan terus mengalami kemerosotan di pentas dunia dengan melakukan KLB, nyatanya KLB hanya menjadi topeng bagi pengurus PSSI untuk terus melakukan permainan busuknya dengan terlalu menggiring sepak bola ke ranah politik praktis.

Bagaimana tidak? Pencalonan Ketua Umum PSSI merupakan wajah-wajah lama yang selama ini berkecimpung di persepakbolaan tanah air. Mereka tak berhasil menunjukkan kemajuan sepak bola Indonesia di mata dunia dan masyarakat indonesia sendiri. Malahan rompi berwarna oranye khas koruptor akhir-akhir ini sering dipakai oleh orang-orang PSSI.

Sejumlah agenda penting bakal mewarnai KLB PSSI nanti, mulai dari pemilihan ketua umum, wakil dan anggota komite eksekutif (exco) PSSI periode 2019-2023. Tercatat ada 11 calon Ketua Umum PSSI yang sudah terdaftar. Lalu ada 71 orang yang akan berebut kursi exco sebanyak 12 kursi.

Kemajuan sepak bola tanah air masih akan tetap menjadi mimpi bagi masyarakat Indonesia. Pecinta sepak bola tanah air seakan menjadi kaum utopis yang tak henti-hentinya mengharapkan keberhasilan tim nasional mereka menembus piala dunia. Pembenahan demi pembenahan sejatinya hanya menjadi formalitas asosiasi untuk menyenangkan hati para penggemar. Metode yang seakan menguntungkan satu pihak dan kembali akan mengecewakan hati masyarakat di kemudian hari.

Reformasi yang diharapkan oleh pecinta sepak bola tanah air tampaknya masih akan menjadi angan belaka, dalam pasal 38 ayat 4 PSSI menyatakan bahwa untuk menjadi komite eksekutif diharuskan sudah aktif di persepakbolaan nasional selama 5 tahun dalam koridor PSSI. Peraturan tersebut tentunya akan menghambat kemajuan dan regenerasi PSSI yang sehat dan penuh integritas.

Peraturan tersebut lagi-lagi menjadi peraturan yang begitu ambigu, multiinterpretasi muncul bagi mereka yang peduli akan sepak bola tanah air. Bagaimana mungkin orang-orang baru dengan idealisme berbeda bisa langsung terjun dalam pembenahan sepak bola Indonesia. Mereka terbentur dengan peraturan yang penuh akan syarat kepentingan kelompok dan nepotisme dalam tubuh aosiasi.

Pantas saja mereka gigih dalam mempertahankan peraturan yang selama ini dianggap membingungkan masyarakat. Sebuah keuntungan indvidu, dan kemunafikan janji dalam membangun sepak bola Indonesia yang lebih baik.

Keheranan yang menyelimuti masyarakat Indonesia seakan sudah biasa. Masalah tersebut akan terus menggerogoti PSSI, karena sepak bola nasional hanya dikuasi oleh kelompok yang itu-itu saja. Pengurus PSSI dipilih oleh voter (pemilik suara). Sepanjang sejarah PSSI, sudah bukan rahasia lagi bahwa politik uang terus terjadi antara voter dan calon pengurus.

Ketidakefektifan voting tersebut nyata adanya. Dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang mencintai sepak bola, nasib sepak bola hanya berada di tangan anggota voter dan calon pengurus. Bila memang masalah ini tak kunjung dibenahi maka masyarakat hanya bisa mendukung tanpa perlu berharap kemajuan sepak bola Indonesia.

Oleh: Fikri Mahbub (arahjatim.com, Biro Surabaya)