Inovasi Biokoagulan BIOCLARE Sulap Air Keruh Jadi Jernih Lewat Peran Ibu-Ibu PKK Desa Gucialit
Jember, ArahJatim.com — Siapa sangka, biji kelor yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan pangan ternyata menyimpan potensi besar untuk mengatasi persoalan air keruh. Berangkat dari keresahan masyarakat saat musim hujan, tim mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) menghadirkan solusi ramah lingkungan berbasis potensi lokal di Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang.
Melalui program PKM-PM bertajuk BIOCLARE (Bio-Coagulant for Clear Water and Environmental Sustainability), mereka menggandeng Tim Penggerak PKK Desa Gucialit untuk mengolah biji kelor menjadi biokoagulan atau penjernih air alami.
Penurunan Kekeruhan Air yang Logis dan Teruji
Proses penjernihan ini menggunakan alat khusus bernama Bioclare yang memanfaatkan empat tahapan utama: koagulasi, flokulasi, sedimentasi, hingga filtrasi. Hasilnya pun tak main-main.
Berdasarkan pemantauan berkala, tingkat kekeruhan air mengalami penurunan signifikan dari minggu ke minggu:
- Minggu ke-1: Kekeruhan air berada di angka 3,5 NTU.
- Minggu ke-3: Turun menjadi 1,33 NTU.
- Minggu ke-4: Menyusut hingga 1,07 NTU.
Capaian pada minggu ketiga dan keempat tersebut tercatat berada jauh di bawah baku mutu kekeruhan air yang ditetapkan dalam laporan program, yakni maksimal 3 NTU.
Bukan Sekadar Proyek, Fokus pada Pemberdayaan Masyarakat
Ketua Tim PKM-PM BIOCLARE, Febriani Marsha Dwi H., menegaskan bahwa fokus utama mereka bukan sekadar membagikan alat, melainkan mentransfer ilmu agar masyarakat bisa mandiri.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa biji kelor bisa dimanfaatkan sebagai biokoagulan, tetapi juga memahami cara mengolah dan menerapkannya. Harapannya, teknologi sederhana ini bisa terus digunakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Febriani.
Sebanyak 20 anggota TP PKK Desa Gucialit dilatih secara langsung, mulai dari sosialisasi hingga praktik pembuatan serbuk biokoagulan. Dampak edukasi ini terlihat jelas dari lonjakan pemahaman peserta, di mana nilai rata-rata evaluasi melesat dari 61,5 sebelum kegiatan menjadi 98,5 setelah pelatihan.
Meski begitu, Febriani memberikan catatan penting terkait penggunaan air hasil olahan tersebut.
“Kami ingin menegaskan, pengujian yang dilakukan masih berfokus pada parameter kekeruhan, sehingga belum dapat menyimpulkan bahwa air telah memenuhi seluruh persyaratan kualitas air minum,” tambahnya.
Dukungan Keberlanjutan dan Respons Positif Warga
Dosen Pembimbing PKM-PM BIOCLARE, Diah Puspaningrum, S.P., M.Si., menilai pendekatan berbasis potensi lokal sangat krusial agar inovasi ini tidak berhenti saat masa program mahasiswa selesai.
“Teknologi akan lebih bermanfaat ketika masyarakat mampu memahami dan menerapkannya secara mandiri. Karena itu, kami tidak hanya memberikan teknologi, tetapi juga membangun pengetahuan dan keterampilan masyarakat agar penerapannya dapat berkelanjutan,” jelas Diah.
Ke depan, program ini akan diperkuat secara kelembagaan lewat rencana pembentukan Pokja Air Bersih di bawah naungan TP PKK Desa Gucialit. Untuk memastikan keberlanjutan penerapan di lapangan, tim mahasiswa juga melakukan pemantauan langsung dengan mendatangi sekitar 70 persen rumah peserta.
Manfaat nyata dari inovasi ini dirasakan langsung oleh warga setempat. Tatik, salah satu anggota PKK yang terlibat, mengaku sangat terbantu dengan adanya teknologi biokoagulan biji kelor ini.
“Selama ini kalau musim hujan airnya keruh. Setelah saya menerapkan inovasi yang disampaikan, sekarang airnya menjadi lebih bersih,” tutur Tatik bahagia. (nsl)











