Karhutla Gunung Wilis Merembet ke Kediri, Jalur Pendakian Bukit Tembelang Ditutup Sementara

oleh
oleh

Kediri, ArahJatim.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda lereng Gunung Wilis kian meluas. Api yang semula membakar kawasan hutan di Kabupaten Nganjuk kini mulai menjalar dan memasuki wilayah Kabupaten Kediri.

​Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Kediri mengambil langkah tegas dengan menutup sementara akses pendakian menuju Puncak Bukit Tembelang di Kawasan Wisata Besuki, Kecamatan Mojo, mulai Sabtu (5/9/2026).

​Fokus Pengamanan Jalur Pendakian

​Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri memastikan bahwa penutupan hanya berlaku untuk jalur pendakian Puncak Tembelang. Kawasan Wisata Besuki secara umum masih beroperasi normal bagi pengunjung harian.

pasang iklan_rev3

​Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparbud Kabupaten Kediri, Husni Mubarok, menjelaskan bahwa titik api sejatinya masih berada di seberang area Puncak Tembelang. Namun, langkah antisipasi harus segera diambil untuk menghindari potensi bahaya akibat rambatan api.

​”Kami mengantisipasi kekhawatiran api merembet ke arah Puncak Tembelang yang masuk wilayah kita. Demi keselamatan bersama, jalur pendakian kami tutup sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan,” terang Husni.

​Bukit Tembelang sendiri tergolong destinasi favorit, terutama bagi para pendaki pemula maupun keluarga. Medan yang ramah dengan waktu tempuh singkat — sekitar 20 hingga 30 menit — menjadikannya lokasi ideal untuk pendakian singkat (tektok).

​Untuk mengantisipasi pendaki yang membandel, petugas disiagakan di area pintu masuk. Spanduk pemberitahuan juga dipasang di depan loket Besuki dan akses pendakian Bukit Tembelang maupun Puncak Cemoro.

​Perjuangan Petugas di Medan Terjal

​Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri bersama instansi terkait terus bersiaga. Berdasarkan pantauan lapangan, kobaran api telah menjalar dari kawasan RPH Bajulan BKPH Pace (Nganjuk) menuju kawasan hutan RPH Parang BKPH Kediri di Desa Joho, Kecamatan Semen.

​Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Ariyanto, mengungkapkan bahwa pemadaman dan pemantauan di lereng Gunung Wilis menghadapi kendala medan yang ekstrem:

  • Titik Api Terkendali: Api di Petak 109 RPH Parang (luas sekitar 6 hektare) dilaporkan sudah padam.
  • Area Aktif: Petak 144 RPH Kanyoran masih membara dengan estimasi area terdampak mencapai 5 hektare.
  • Akses Sulit: Petugas membutuhkan waktu jalan kaki hingga 4 jam dari Taman Kelir untuk mencapai titik api dengan perbekalan lengkap.
  • Kendala Teknologi: Pemantauan udara menggunakan drone sempat terkendala akibat angin kencang dan keterbatasan daya baterai.

​”Vegetasi di sekitar lokasi masih cukup hijau dan terdapat aliran sungai. Kami berharap bentang alam ini bisa menjadi pembatas alami (firebreak) agar api tidak merembet sampai ke Gunung Gansang,” jelas Ariyanto.

​Lebih dari 10 personel gabungan diterjunkan ke lokasi, bahkan sebagian di antaranya harus menginap dua malam di tengah hutan untuk memastikan api tidak kembali berkobar.

​Pemicu Kebakaran Duga Kuat Ulah Manusia

​BPBD mengimbau keras agar masyarakat tidak melakukan aktivitas berisiko di dalam area hutan. Hasil analisis awal menduga kuat bahwa karhutla di kawasan Gunung Wilis ini dipicu oleh kelalaian manusia.

​Aktivitas seperti perburuan liar dengan membakar serasah hutan, hingga pencarian sarang lebah madu menggunakan obor (oncor) yang tidak dipadamkan secara sempurna, ditengara menjadi penyebab utama munculnya percikan api di tengah kondisi vegetasi yang mengering.

​Masyarakat dan calon pendaki diminta untuk mematuhi aturan penutupan ini dan terus memantau informasi resmi dari Disparbud serta BPBD Kabupaten Kediri sebelum merencanakan aktivitas ruang terbuka di kawasan Gunung Wilis. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.