Solusi Kreatif Hadapi Cuaca Ekstrem dan Buat Dapur Petani Tetap Ngebul
Jember, ArahJatim.com — Hamparan lahan tebu seluas 2,1 hektare di Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Jember, kini tampak tak biasa. Di sela-sela jajaran batang tebu yang menjulang, kehijauan baru menyeruak. Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember hadir membawa napas baru lewat pola tumpangsari kacang hijau.
Sentuhan inovasi polikultur ini bukan sekadar program pengabdian masyarakat biasa. Bagi para petani lokal, langkah ini menjadi angin segar untuk mengoptimalkan lahan yang ada sekaligus mengamankan dompet di tengah ketidakpastian cuaca.
Tambahan Pendapatan Juta-an Rupiah dari Sela-Sela Tebu
Sebelum benih disebar, mahasiswa bersama petani turun langsung ke lapangan. Mereka bahu-membahu membersihkan gulma agar nutrisi tanah terserap maksimal oleh tanaman utama maupun sampingan.
Pengurus HMI Cabang Jember, Mohammad Arianto, menjelaskan bahwa potensi ekonomi dari kombinasi ini sangat menjanjikan. Untuk satu hektare lahan, petani hanya membutuhkan sekitar 25 kilogram benih kacang hijau. Namun, hasilnya bisa mencapai 1,6 hingga 2 ton saat panen.
“Dengan asumsi harga Rp13 ribu per kilogram, satu ton kacang hijau saja bisa menghasilkan sekitar Rp13 juta. Ini jadi potensi pendapatan tambahan yang sangat nyata dari lahan yang tadinya cuma diisi tebu,” ujar Arianto.
Panen Singkat, Penyelamat Saat Cuaca Tak Menentu
Bagi para petani di Semboro, pola tumpangsari sebenarnya bukan hal yang asing. Namun, pemilihan kacang hijau kali ini dinilai sangat tepat sasaran. Masa tanamnya yang singkat—hanya sekitar 60 hingga 70 hari—membuat petani tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memetik hasil.
Malik, salah seorang petani tebu setempat, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Menurutnya, inovasi ini menjadi benteng pertahanan bagi petani ketika suhu udara tinggi yang berisiko menekan produktivitas tebu.
“Kami sudah biasa dengar tumpangsari pakai kedelai atau jagung. Tapi kacang hijau ini menarik sekali karena panennya cepat, cuma dua bulanan,” tutur Malik penuh antusias. “Kami sangat mengapresiasi adik-adik HMI yang sudah telaten mendampingi kami di lapangan.”
Inisiatif sederhana di Desa Semboro ini membuktikan bahwa kolaborasi antara pemuda terpelajar dan petani lokal mampu melahirkan solusi konkrit. Ke depan, pola polikultur ini diharapkan bisa ditiru oleh wilayah lain demi memperkuat ketahanan pangan sekaligus menyejahterakan para pahlawan pangan lokal. (nsl)










