Jombang, ArahJatim.com – Suasana di sekitar arena Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) sempat menghangat akibat dinamika perbedaan pandangan jelang sidang pleno. Menanggapi situasi yang kian memanas di lapangan, Ketua Umum PP Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen, angkat bicara dan memberikan imbauan menyejukkan kepada seluruh warga Nahdliyin dan peserta forum.
Pria yang akrab disapa Gus Nabil ini menegaskan bahwa kehadiran barisan benteng NU tersebut di arena Muktamar murni untuk menjalankan tugas pengabdian (khidmah), yakni mengawal keamanan, ketertiban, serta menjaga marwah hajatan tertinggi jam’iyyah.
Netralitas Pagar Nusa dan Pengawalan Persidangan
Di tengah simpang siur isu pengerahan massa dan keterpihakan politik, Gus Nabil menggarisbawahi posisi Pagar Nusa yang berdiri tegak di atas semua kelompok. Pagar Nusa tidak memihak kandidat manapun yang sedang berkompetisi.
”Pagar Nusa hadir di arena Muktamar semata-mata untuk menjalankan khidmah menjaga keamanan, ketertiban, dan marwah Muktamar. Kami tidak berada pada kepentingan kandidat atau kelompok mana pun,” tegas Gus Nabil saat memberikan keterangan, Ahad (30/8/2026)
Terkait gesekan kecil di sekitar lokasi persidangan, pihaknya mengimbau agar semua pihak bisa menahan diri dan kembali pada koridor organisasi. Perbedaan pilihan politik atau pandangan dinilainya wajar, namun tidak boleh merusak ketertiban umum.
Pengamanan yang dilakukan oleh personel Pagar Nusa dipastikan berjalan secara terukur dan persuasif tanpa tindakan provokatif.
Menjaga Adab di Tanah Suci Tambakberas
Hal mendalam yang menjadi sorotan Gus Nabil adalah lokasi penyelenggaraan Muktamar kali ini. Tambakberas bukanlah sekadar tempat berkumpul, melainkan bumi perjuangan yang menyimpan jejak sejarah besar NU.
Ia mengingatkan bahwa di tanah Tambakberas bersemayam salah satu muassis (pendiri) dan penggerak utama Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab). Oleh karena itu, menjaga sikap dan sopan santun (adab) di hadapan para masyayikh adalah kewajiban moral yang mendasar.
”Sudah sepatutnya kita menjaga adab di hadapan para masyayikh. Jangan sampai di tempat yang menyimpan jejak perjuangan dan pengabdian beliau, kita justru mempertontonkan pertengkaran yang mencederai persaudaraan sesama Nahdliyin,” tuturnya.
Utamakan Musyawarah, Bukan Tekanan Lapangan
Sebagai forum musyawarah tertinggi organisasi, segala bentuk perbedaan ide maupun pilihan figur hendaknya diselesaikan secara elegan melalui mekanisme yang sah, bukan dengan pengerahan kekuatan massa di luar ruang sidang.
Gus Nabil menutup pesannya dengan mengajak seluruh peserta dan nahdliyin untuk mendinginkan suasana, menjaga persaudaraan, dan menghormati amanah para pendiri NU.
”Tugas kami sederhana: menjaga para kiai, menjaga peserta, menjaga forum, dan memastikan Muktamar dapat berjalan dengan aman sampai selesai. Mari kita jaga Tambakberas, kita jaga kehormatan Muktamar, dan kita jaga persaudaraan,” pungkasnya. (das)










