Tulungagung, ArahJatim.com – Beredarnya informasi terkait penyakit cacar monyet, ternyata masih menjadi teka teki si dunia kesehatan di Indonesia. Seperti beberapa media nasional, sempat menyinggung adanya penyakit ini, namun secara uji klinis masih belum sepenuhnya dibenarkan. Beberapa daerah ada yang mengklaim sudah adanya penyakit ini, ternyata secara resmi , departemen kesehatan di kementerian belum memberikan pengumuman secara resmi itu sudah menjalar. Menyikapi ini, dinas kesehatan kabupaten Tulungagung juga meresponya dengan datar, tetapi yang namanya penyakit yang berasal dari penyebaran virus, tidak menutup kemungkinan.
Kepala dinas kesehatan Tulungagung, melalui Kasi P2M Didik Eka Saputra , mengaku pihaknya juga terus memantau , dan mengaku mewaspadai. Hal itu disampikan Didik, Rabu 10/8/2022 dikantornya.
” Ya bicara monkeypox, atau cacar monyet, punya sejarah panjang. Tetapi dengan pengumuman WHO, dimana negara tetangga Singapura sudah ada pendudunya yang terkena , maka wajar, bila negara tetangga seperti Indonesia itu waspada. Penyakit yang berasal dari virus sejenis hewan mengerat ini, menular ke manusia, melalui beberapa metode, mulai dari cakaran, gigitan serta mengkonsumsi daging hewan yang terjangkiti “, ungkap Didik Eka.
Pada awalnya, penyakit cacar monyet memiliki gejala yang serupa dengan cacar air, yaitu bintil berair. Seiring perkembangan penyakit, bintil berair berubah menjadi bernanah dan menimbulkan benjolan di leher, ketiak, atau selangkangan akibat pembengkakan kelenjar getah bening.
Ditambahkan Didik, penyakit ini bermula dari negara Kongo , sekitar tahun 1958, tetapi di tahun 1970, sudah merambat ke negara Afrika dan menjadi endemik.
Menyikapi itu semua , diharapkan masyarakat tidak perlu gusar,tetapi harus terus waspada. Beberapa daerah di Indonesia, yang dikabarkan terkena , seperti Kalimantan, Jakarta, Jawa tengah, ternyata setelah melalui uji laboratorium, itu bukan jenis cacar kera. Cacar monyet menyebar antarmanusia melalui percikan liur yang masuk melalui mata, mulut, hidung, atau luka di kulit. Penularan juga bisa terjadi melalui benda yang terkontaminasi, seperti pakaian penderita. Namun, penularan antarmanusia membutuhkan kontak yang lama.
Disinggung mengenahi latar belakang mengapa saat ini dunia harus waspada dengan hal ini, Didik menjelaskan lagi tentang kronologisnya.
“Yang sekarang menjadi konsen WHO, ketika berawal bulan mei 2022,terjadi di Inggris, sedang bulan Juli 2022, sudah ada laporan di 75 negara sudah terjangkiti, sehingg 23 Juli, Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) menetapkan sebagai waspada untuk negara negara yang tergabung dalam organisasi tersebuttersebut, “
Sebagai lembaga daerah, dinas kesehatan di kabupaten tetap memberlakukan sikap kehati harian, dan apabila masyarakat yang mengalami gejala gejala seperti lesu, cacarnyabyang dari berair berubah menjadi nanah, harap segera datang ke faskes, untuk diperiksa dokter. Pihak dinas kini sudah melakukan komunikasi dengan faskes yang ada , untuk selalu waspada.
Dalam konsep ini, masyarakat tidak boleh menjustifikasi jenis penyakit itu, sesuai dengan tren, tanpa keterangan dokter yang jelas , termasuk kategori monkeypox.(dni)










