Covid-19 Gerus Penjualan Properti di Banyuwangi Hingga 80 Persen

oleh -
Perusahaan properti melakukan sejumlah strategi agar tetap survive di tengah mewabahnya pandemi covid-19. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Menyusul adanya sentimen pandemi virus corona atau covid-19 yang semakin meluas, membuat sejumlah pengembang perumahan, utamanya rumah bersubsidi mulai terganggu.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Real Estate Indonenesia (REI) Jawa Timur Komisariat Banyuwangi, Eko Joko Susanto menuturkan, sebetulnya sejak Oktober 2019 lalu penjualan rumah bersubsidi yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam bentuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sudah drop akibat kehabisan kuota dari pemerintah.

“Sejak Oktober 2019 penjualan rumah subsidi FLPP itu sudah drop karena kehabisan kuota. Desember ada tambahan tapi tidak banyak, hanya bisa untuk bertahan,” kata Eko Joko Susanto.

Pria yang  juga pengembang perumahan PT Bukit Mas Mandiri ini menambahkan, harapan tahun 2020 ini sejumlah pengembang di Banyuwangi yang mayoritas menjual rumah subsidi bisa kembali bangkit, namun baru akan melangkah sudah dihadang sentimen pandemi Covid-19 yang menjadikan penjualan properti mengalami penurunan sangat signifikan yaitu mencapai 80 persen.

“Oktober sampai Desember 2019 lalu kita drop kehabisan kuota. Harapannya tahun 2020 ini, tapi baru akan jalan sudah dihadang Covid-19. Orang nggak mikir akan kebutuhan beli rumah, mereka hanya mikir kesehatannya, pangannnya agar bisa bertahan hidup. Memang kita masih jalan tapi hanya mendata potonsi-potensi yang ada, sisa-sisa yang lalu. Untuk sekarang yang mau beli rumah baru itu penurunannya drop sekali yaitu 80 persen,” tambah Direktur PT Bukit Mas Mandiri.

Mengantisipasi keterpurukan dunia properti sebagai dampak Covid -19, pengembang yang sudah berkiprah di dunia properti sejak tahun 1996 ini melakukan sejumlah strategi, di antaranya merumahkan sementara sebagian karyawannya dengan cara membagi sistem kerja.

Selain itu puluhan pekerja lapangan seperti tukang dan mandor untuk sementara juga dirumahkan, dengan pertimbangan memberikan edukasi kepada mereka agar lebih waspada terhadap penyebaran virus corona yang kian hari kian meluas. Sebab penyebaran covid-19 gelombang kedua diperkirakan akan lebih dahsyat.

Mengingat para perantau yang mudik pulang kampung sebelumnya berada di wilayah zona merah dan dikhawatirkan akan berinteraksi dengam para pekerja yang sebagain besar berada di wilayah urban. Diharapkan langkah tersebut mampu meminimalisir penyebaran virus mematikan itu.

“Per 1 April kami merumahkan sementara pegawai dan pekerja lapangan. Kita merumahkan mereka juga kita siapkan kebutuhannya berupa paket sembako berisi beras 10 kilo, telor dan minyak goreng 2 kilo, uang saku masing-masing 200 ribu untuk kebutuhan dua minggu ke depan. Dengan harapan agar mereka lebih waspada terhadap kondisi yang terjadi saat ini. Mudah-mudahan langkah kita ini bisa diikuti oleh pengembang lain,” tandas Eko Joko Susanto

Sementara itu, di tengah sentimen pandemi virus corona yang saat ini sedang menerpa Indonesia, Kementerian PUPR yang menangani program rumah subsidi, per 1 April menggulirkan stimulan untuk rumah subsidi FLPP. Tahun 2020 akan diberikan stimulus  untuk pembangunan sekitar 175 ribu unit rumah bersubsidi. Selain itu program tersebut juga memberikan subsidi selisih bunga dan selisih uang muka. Informasinya bisa disimak di link berikut: Kementerian PUPR Mulai Gulirkan Stimulus di Sektor Perumahan per 1 April 2020.

“Mudah-mudahan (dengan) adanya stimulus tersebut akan menjadikan dunia properti kembali bisa jalan, meski membutuhkan waktu yang cukup lama,” pungkas Eko Joko Susanto. (ful)