Kediri, ArahJatim.com – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri, Solichin, memberikan penjelasan rinci mengenai insiden yang melibatkan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan langkah tegas yang diambil, termasuk pemindahan pelaku ke Lapas Kelas I Surabaya, Porong.
Keterangan resmi ini didapat dari rilis Lapas Kediri yang diterima Jumat petang, 5 September 2025.
Peristiwa ini bermula pada Rabu pagi, 27 Agustus 2025, saat seorang WBP berinisial ASP (20), yang masih berstatus tahanan titipan, mengeluh sakit perut. Korban mengaku dipaksa menelan dan meminum barang yang tidak lazim oleh WBP lain. ASP segera dibawa ke klinik lapas dan kemudian dirujuk ke RSUD Simpang Lima Gumul (SLG) untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Solichin menegaskan bahwa hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada area vital korban, termasuk anus. Ia juga membantah adanya dugaan pelecehan seksual, namun menyatakan pihaknya akan tetap berhati-hati dalam menindaklanjuti kasus ini.
Pelaku Langsung Dihukum dan Dipindahkan
Solichin langsung mengambil tindakan tegas terhadap pelaku. “Sejak hari kejadian, pelaku langsung kami pindahkan dari blok hunian dan ditempatkan di strap cell. Ini adalah bentuk pengamanan awal yang wajib kami lakukan,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, pelaku juga disidangkan di hadapan Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) keesokan harinya. Hasil sidang memutuskan untuk menjatuhkan register F kepada pelaku, yang berakibat pencabutan hak-hak narapidana.
Solichin menyatakan bahwa ia juga mengusulkan pemindahan pelaku ke Lapas Nusakambangan. Namun, karena situasi di Kediri belum sepenuhnya kondusif, pelaku dipindahkan sementara ke Lapas Kelas I Surabaya, Porong.
Komitmen untuk Melindungi Warga Binaan
Menurut Solichin, pemindahan ini adalah upaya untuk mencegah terulangnya insiden serupa dan untuk memastikan rasa aman bagi seluruh warga binaan.
”Kami tidak ingin ada warga binaan yang merasa takut,” tegasnya.
Solichin menambahkan bahwa kondisi korban saat ini semakin membaik dan sudah dapat beraktivitas kembali, meski masih memerlukan rawat jalan. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen Lapas Kediri untuk tidak menoleransi kekerasan antar-WBP.










