Ketika Rasi Bintang Talu-talu dan Fisika Modern Dipertemukan di Pesisir Puger

oleh
oleh

​Mahasiswa UNEJ Racik Metode Pembelajaran Unik: Menghubungkan Kearifan Lokal Nelayan Jember dengan Sains dan Kesiapsiagaan Tsunami

Jember, ArahJatim.com — Bagi masyarakat pesisir Puger, Jember, Jawa Timur, malam hari di tengah laut bukanlah kegelapan tanpa arah. Jauh sebelum GPS dan navigasi digital menjadi barang lumrah, para nelayan setempat telah bersahabat dengan bentangan langit. Mereka membaca arah angin, perubahan gelombang, hingga jejak rasi bintang Talu-talu—tiga bintang yang berderet lurus dari timur ke barat—sebagai pedoman setia dalam membelah samudera.

​Kini, pengetahuannya yang diwariskan secara turun-temurun itu tak lagi sekadar menjadi obrolan di atas perahu kayu. Di tangan lima mahasiswa Universitas Jember (UNEJ), kearifan lokal nelayan Puger diboyong langsung ke dalam ruang kelas sekolah menengah.

​Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), tim yang digawangi Shofiyatul Lailiyah, Ina Frebianti, Mabruroh, Aziziyatur Rahmah, dan Auri Letha Azzura Wijaya ini merancang terobosan pembelajaran fisika yang memadukan astronomi, oseanografi, serta teknologi pendidikan modern.

pasang iklan_rev3

​Menjadikan Laut sebagai Ruang Belajar Fisika

​Ketua Tim PKM-RSH UNEJ, Shofiyatul Lailiyah, menuturkan bahwa gagasan ini lahir dari kegelisahan melihat pelajaran fisika yang kerap dianggap abstrak dan kering oleh para siswa. Padahal, bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan pesisir, hukum-hukum alam itu sesungguhnya berdenyut saban hari di sekitar mereka.

​”Kami ingin siswa tidak hanya mempelajari fisika sebagai teori di dalam buku,” ujar Shofiyatul. “Pengetahuan yang sudah hidup di tengah masyarakat nelayan kami jadikan pintu masuk untuk memahami sains. Di saat yang sama, ini jadi sarana membangun kesadaran bahwa mereka tinggal di wilayah yang memiliki potensi bencana tsunami.”

​Sebelum membawa materi ini ke ruang kelas, tim riset mendatangi langsung pemukiman nelayan di Puger. Dari penuturan para pelaut senior, terungkap betapa presisinya cara masyarakat lokal membaca alam.

​Sugiyono, salah satu nelayan Puger, menceritakan bagaimana isyarat alam menjadi navigasi alami saat melaut.

​”Bagi nelayan, melihat bintang, bulan, angin, dan gelombang bukan sekadar kebiasaan,” tutur Sugiyono. “Tanda-tanda alam itu adalah bagian dari pengetahuan untuk menentukan waktu dan arah yang tepat ketika berada di tengah laut.”

​Dari Rasi Bintang hingga Simulasi Tsunami

​Di bawah bimbingan dosen Lailatul Nuraini, S.Pd., M.Pd., tim mahasiswa ini kemudian menerjemahkan pengetahuan empiris nelayan tersebut ke dalam prinsip sains modern. Hasilnya, tercipta tiga media pembelajaran interaktif:

  • Media Reel Simulasi Tsunami: Alat peraga visual untuk memodelkan pergerakan gelombang laut dan dampaknya ke daratan.
  • Aplikasi Digital Interaktif: Berbasis Articulate Storyline yang menggabungkan materi astronomi dan oseanografi.
  • Buku Panduan Siswa: Modul khusus yang menyandingkan konsep fisika dengan kearifan lokal setempat.

​Tak hanya itu, tradisi tahunan Petik Laut Puger juga diangkat ke dalam materi. Ritual budaya yang di dalamnya memuat khataman Al-Qur’an, tahlil, kirab, pagelaran wayang, hingga pelarungan sesaji tersebut dimaknai kembali dari sudut pandang konservasi lingkungan dan nilai kesiapsiagaan bencana.

​Dipraktikkan di SMKS Puger

​Model pembelajaran bernuansa lokal ini diuji cobakan langsung di SMKS Puger. Sebanyak 54 siswa dari kelas X Akuntansi dan X Usaha Layanan Wisata diajak terlibat aktif.

​Di kelas, para siswa tidak cuma mengamati media digital dan mencoba alat simulasi tsunami. Mereka juga diajak mengamati fase bulan secara langsung untuk memahami keterkaitannya dengan pasang-surut air laut serta dinamika aktivitas nelayan. Evaluasi melalui pretest dan posttest pun menunjukkan adanya peningkatan pemahaman sains sekaligus tingkat kesiapsiagaan mereka terhadap potensi bencana alam.

​Dosen Pembimbing, Lailatul Nuraini, menegaskan pentingnya menjembatani sains sekolah dengan realitas tempat tinggal siswa.

​”Pembelajaran akan jauh lebih bermakna ketika siswa bisa melihat hubungan antara konsep yang dipelajari di kelas dengan lingkungan sekitar mereka,” terangnya. “Kearifan lokal tidak kami posisikan terpisah dari sains, melainkan sebagai konteks untuk membangun daya pikir kritis.”

​Melalui inisiatif ini, ruang kelas tak lagi berjarak dengan desir angin dan riak gelombang laut Puger. Lebih dari sekadar pelajaran fisika, inovasi ini menanamkan kesadaran penting: bahwa menjaga warisan leluhur dan memahami sains modern adalah kunci untuk beradaptasi serta bersiap diri di garis pantai selatan Jawa. (nsl)

No More Posts Available.

No more pages to load.