Surabaya, ArahJatim.com – Kabut tebal mengiringi perjalanan pulang Hariyono (28) di kampung halamannya di Tuban, Jawa timur. Namun kedatangannya kali ini tak seperti biasanya. Dia datang dngan tanpa nyawa di sela-sela dingin yang menusuk saat dini hari menyapa.
Hariyono tewas tertembak di perutnya saat sedang berada di kawasan Surabaya Timur. Bersama rekannya yang selamat, dia sempat dilarikan ke rumah sakit di Surabaya dan Bojonegoro. Alasan pemindahan ke Bojonegoro agar keluarga mudah untuk menengoknya.
Sesaat setelah dikabarkan meninggal dari Surabaya, Hariyono menempuh jarak yang lumayan jauh. Perjalanan 5 jam harus dilalui untuk sampai ke rumah. Dengan jalanan penuh longsor dia disemayamkam di dekat rumahnya. Hanya berjarak kurang lebih 500 meter jauhnya.
Isak tangis menyambut saat wartawan Arahjatim mendatangi kediaman keluarga besar Hariyono. Ibunya menangis memeluk sembari mengatakan “Saya kehilangan anak saya mas, saya kehilangan. Dia sudah meninggal mas, meninggal,” katanya sembari memeluk, Minggu (18/12).
Wanita renta yang sudah berusia sepuh itu meminta agar anaknya dimaafkan jika ada kesalahan. Meski berat, dia mencoba untuk ikhlas dan tak berdoa agar anaknya mendapat tempat terbaik di sisi tuhan.
Istrinya, Yuli juga tertunduk lesu dan sesekali menangis saat teringat jika lelaki yang menemaninya selama 8 tahun itu telah berpulang. Kondisinya tak lagi sama sekedar untuk tertawa bersama kedua anaknya.
“Memang sempat pulang dari Surabaya. Waktu itu dokter bilang boleh pulang karena kondisinya membaik. Tapi tiba-tiba ngedrop lagi, dan saya larikan ke rumah sakit di Bojonegoro,” katanya.
Setelah bebeapa hari di rumah sakit di Bojonegoro, kondisinya semakin menurun dan terpaksa Yuli harus membawanya kembali ke rumah sakit di Surabaya.
“Panasnya waktu itu sekitar 40 derajat, itu juga tidak sadar dan saya harus bawa ke Surabaya. Itu tanggal 12 Desember,” ucapnya.
Yuli berucap jika di dalam perut suaminya ada infeksi yang menyebabkan suaminya kembali menurun kondisinya. Dan ia menuruti kemauan dokter untuk segera dilakukan operasi untuk kedua kalinya sejak dia dioperasi pertama di Surabaya.
Dokter mengatakan suaminya semakin menurun setelah menjalani operasi. Yuli diminta untuk bersabar dan beroda. Ia hanya bisa menangis dan pasrah.
“Betul saja, dokter bilang lagi disuruh berdoa, dan suami saya memang tak bisa diselamatkan,” terangnya mengingat momen itu.
Meninggalkan Dua Buah Hati
Berat beban Yuli tak hanya sampai di situ ketika dia tahu kalau suaminya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Bersama 2 buah hatinya, dia mengatakan akan menjalani hidup yang tak lagi sama.
Hariyono meninggalkan Yuli bersama kedua buah hatinya yang masih berusia 4 tahun untuk anak kedua, dan 5 tahun untuk anak pertamanya. Hanya berjarak waktu setahun saja usia umur mereka.
“Anak saya itu gatahu mas kalau ayahnya sudah meninggal. Gak tahu sama sekali, maklum masih kecil. Dua-duanya masing sering nanya Ayah dimana ma ? Itu sepeda motor Ayah ma datang,” ceritanya.
Memang kedua bocah kecil itu kerap keluar saat sepeda motor yang biasa dipakai Hariyono terdengar mendekati rumah. Mereka menganggapnya ayahandanya telah pulang.
Menyisakan Utang Rumah Sakit
Tak sampai di situ, Yuli bersama anggota keluarga besarnya saat ini pusing lantaran biaya rumah sakit yang masih belum dia bayar. Tak tanggung-tanggung, uang sebesar Rp 41 juta sudah ia keluarkan saat operasi pertama. Itu pun ia berhutang. Kini ia harus ditagih biaya operasi kedua yang totalnya juga mungkin saja akan sama.
“Saya utang semua mas. Gak main-main harganya segitu besarnya. Padahal kemarin katanya untuk biaya operasi yang kedua sudah ditanggung BPJS, tapi kok dikonfirmasi lagi gak bisa dicover BPJS karena kena tembak polisi,” ceritanya lagi.
Yuli bercerita memang sempat ada biaya kemanusiaan yang ia terima. Namun tak sebanding dengan nyawa yang hilang serta biaya rumah sakit yang mahal.
“Saya waktu itu tandatangan nerima uang sebesar 3 juta dari salah satu polisi. Saya gak kenal. Katanya buat bantuan kemanusiaan,” pungkasnya.










