
Banyuwangi, ArahJatim.com – Ribuan umat Katolik mengikuti Misa bersama Jumat agung di Gereja Katolik Parokhi Santa Maria Ratu Damai, Banyuwangi, Jumat (19/4/2019) sore. Selain prosesi Jumat Agung, sebelumnya juga dilaksanakan beberapa ritual, mulai dari pekan suci dan Kamis Putih dilanjutkan dengan misa paskah Sabtu malam dan misa Minggu pagi untuk memperingati kebangkitan Yesus.
Pada prosesi Jumat agung dilakukan penyembahan salib dengan mencium patung Yesus disajikan untuk memperingati wafatnya Isa Al Masih, sekaligus mengenang perjuangan Yesus Kristus semasa hidupnya.
Tujuanya untuk mengingatkan pada umat Katolik akan perjuangan Yesus dalam membebaskan dosa-dosa yang dibuat oleh manusia. Prosesi ini penting dilakukan agar ke depan umat manusia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
”Ini termasuk dalam rangkaian kegiatan di pekan suci. Pada Jumat Agung ini kami peringati kerena bertepatan dengan wafatnya Yesus. Ini menjadi momen untuk mengenang perjuangan Yesus, sebab saat wafatnya beliau harus rela disalib terlebih dahulu,” kata Arnoldus Yansen – Ketua Dewan Parokhi Gereja Katolik Banyuwangi.
Pada misa Jumat Agung kali ini sengaja tidak diisi drama penyaliban Isa Al Masih yang selama ini biasanya digelar, karena kesibukan pengurus dalam perhelatan pemilu.
Baca Juga :
- Warga Banyuwangi Bobol Rumah Tetangga Karena Sakit Hati
- Partisipasi Pemilu Capai 75 Persen, Bupati Anas: Masyarakat Sudah Dewasa
”Tahun ini tidak ada drama karena tidak cukup waktu untuk persiapan, hampir semua pengurus jadi petugas TPS. Umat juga banyak yang ikut. Termasuk saya,” terang Yansen.

Meski demikian, tambah Yansen tidak mengurangi nilai dari peringatan paskah sendiri. Di mana umat diajak kembali untuk mengingat nilai perjalanan Isa dari masa-masa yang sulit hingga kebangkitan. Terlebih paskah kali ini terasa istimewa karena bertepatan dengan momen pemilihan umum.
Yansen pun berharap ini bisa dijadikan pelajaran bagi umat untuk bersama-sama membawa kedamaian. Karena, seperti perjalanan paskah, pemilu juga mengalami proses panjang hinggu puncaknya pada pemilihan tanggal 17 kemarin.
“Setelah ini kita harus bersama membawa kedamaian untuk membangun Indonesia. Orang yang awalnya sempat tidak cocok, saat ini harus bersama saling mengampuni,” pungkas Yansen. (ful)










