Banyuwangi, Arahjatim.com – Ada yang berbeda di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi setiap bulan Ramadan. Jika di masjid-masjid lain tadarus atau membaca Alquran dilakukan menggunakan Alquran ukuran normal, namun tidak demikian di masjid kebanggaan masyarakat Banyuwangi ini. Setiap bulan Ramadan para jemaah tadarusan menggunakan Alquran berukuran jumbo atau yang terkenal dengan sebutan Alquran raksasa.
Seperti kitab suci pada umumnya, Alquran raksasa yang ditulis tangan oleh Abdul Karim pada tahun 2011 ini, terdiri dari 114 surat, 30 juz dan 6236 ayat. Alquran yang tingginya melebihi orang dewasa dan diklaim terbesar se-Indonesia itu memiliki panjang dan lebar 2 x 1,5 meter, dengan bobot mencapai empat kuintal.
Menurut keterangan Sekretaris Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi (MAB), untuk menulis Alquran ukuran jumbo, sang penulis, Abdul Karim warga Desa Genteng, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, membutuhkan waktu sekitar 6 bulan, menghabiskan 32 dus spidol dan 40 dus tinta, serta kertas khusus yang didatangkan dari luar negeri, yaitu Jepang.
”Tinta dan kertasnya didatangkan secara khusus dari Jepang. Yang membuat adalah Pak Abdul Karim, ini adalah hasil karya ketiganya, dan memang sudah nazarnya dihibahkan ke MAB Banyuwangi,” kata Sekretaris Masjid Agung Baiturrahman, Iwan Azis Siswanto.
Selama tadarus, Alquran raksasa selalu dibaca oleh tujuh jemaah secara bergantian. Lantaran ukurannya yang super besar, untuk membuka lembaran demi lembaran dibutuhkan dua jemaah untuk membuka halaman berikutnya.
Selain ukurannya super jumbo, ada hal lain yang membuat Alquran tersebut berbeda dari Alquran pada umumnya. Di mana tanda akhir ayat pada setiap surat selalu berada di pojok halaman. Hal tersebut selain sebagai tanda bahwa bacaan Alquran sudah memasuki halaman berikutnya, sekaligus untuk mempermudah jemaah yang membaca.

”Setiap malam ada tujuh jemaah yang tadarus secara gantian. Karena ukuranya besar, untuk membuka halaman harus dua orang, agar tidak rusak. Bebannya berat, bagian yang paling bawah ini selalu kita cek secara berkala agar tidak mudah rusak. Tapi alhamdulillah kondisinya masih bagus, baik dari bentuk, warna maupun tulisan Alquran ini,” tambah Iwan Azis.
Setiap malam, tujuh jemaah menyelesaikan bacaan Alquran sebanyak tiga juz. Karena ukurannya tidak seperti Alquran pada umumnya, jemaah yang membaca harus bisa menyesuaikan diri. Namun, bagi yang sudah terbiasa, membaca Alquran raksasa terasa lebih mudah karena ukuran huruf arabnya juga lebih besar.
”Kalau saya sudah terbiasa membaca Alquran besar ini. Karena tulisannya lebih besar, membacanya jadi lebih jelas dan tambah semangat,” ucap Ahmad Rifai, Koordinator Tadarus Alquran Raksasa.
Selain dibaca khusus pada saat bulan Ramadan, Alquran raksasa tersebut juga dibaca saat hari besar Islam dan juga dijadikan wisata religi bagi wisatawan yang ingin melihat secara langsung Alquran yang tersimpan rapi di museum. (ful)











