KOMPAN Sebut Polri Harus Punya Kultur Baru sebagai Pengayom Masyarakat

oleh
oleh

Surabaya, ArahJatim.com – Komunitas Mahasiswa dan Pemuda NKRI menyoroti kinerja polisi yang akhir-akhir ini sering jadi perbincangan masyarakat umum. Seminar yang dihadiri oleh Ketua Presidium IPW Sugeng Teguh Santoso, Haidar Adam Pakar Hukum Unair dan Mohtazul Farid Sosiolog NU itu menyinggung kinerja polisi dengan judul Reformasi Kultural Polri.

“Di era digitalisasi seperti saat ini masyarakat lebih condong kepada media sosial, sehingga kepolisian harus mencari cara agar menerapkan pelayanan, pengayoman, dan penegakan hukum dengan metode dan paradigma yang baru,” jelas Haidar Adam saat diskusi berlangsung, Selasa (29/11).

Selama ini Haidar menjelaskan, respon polisi terhadap laporan yang dilayangkan masyarakat cenderung ditangani secara lamban, hal ini bisa saja terus menggerus kepercayaan publik terhadap institusi Polri sendiri dalam waktu yang relatif lama.

pasang iklan_rev3

“Karena masyarakat membentuk pemahaman ketika kasusnya viral, barulah nanti akan ditangani oleh kepolisian. Berbeda halnya ketika kasusnya tersembunyi, cenderung jalan di tempat,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Sugeng Teguh Santoso menerangkan jika komunikasi antara instansi dan masyarakat merupakan hal yang penting. Dalam komunikasi tersebut dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri.

“Paradigma reformasi kepolisian saat itu membuat Peraturan Kapolri tentang implementasi dan standar hak asasi manusia, serta profesionalisme dan kode etik sudah diatur lengkap di sana. Di sini Polri mengayomi, pelayanan, perlindungan dan penegakan hukum,” bebernya.

Sugeng mengatakan jika Polri sudah didesign dengan sedemikian bagusnya. Namun hal yang belum selesai dan harus dibenahi tentang reformasi kultural dalam tubuh institusi.

“Aduan kepada IPW dan Kompolnas menurut data kami, yang terbesar adalah aduan mengenai reserse. Tugas dan fungsinya menjadi sorotan masyarakat,” katanya.

Dirinya juga menyinggung rentetan kasus yang selama ini dihadapi oleh kepolisian merupakan seleksi alam dan pemurnian terhadap institusi Polri.

“Dan menurut data, kepercayaan masyarakat kepada Kapolri lebih tinggi 6 persen daripada institusi Polri. Ini kan lucu jadinya,” terangnya.

Sumbangsih saran, kata Sugeng, Polri harus menerapkan culture yang baru. Culture itu diciptakan dalam tubuh Polri sendiri seperti halnya Polri yang humanis serta mengayomi. “Selama ini kan culture itu diciptakan hanya di dunia sosial media,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.