Ajang silaturahmi perdana Kapolres Tulungagung bersama puluhan awak media berlangsung gayeng. Beragam persoalan krusial daerah mulai dari kebisingan sound horeg, slogan Jogo Tulungagung, hingga isu konvoi perguruan silat dikupas tuntas.
​Tulungagung, ArahJatim.com — Suasana santai dan penuh keakraban mewarnai pertemuan perdana Kapolres Tulungagung yang baru, AKBP Wiwin Junianto Supriyadi, S.I.K., dengan puluhan awak media di salah satu rumah makan kawasan Jepun, Tulungagung, Rabu (16/9/2026) malam.
​Momen silaturahmi yang dikemas dalam program Piramida (Ngopi Bersama Media) ini menjadi ruang dialog terbuka antara Pejabat Utama (PJU) Polres Tulungagung dan sekitar 70 jurnalis. Program ini dihajatkan untuk memperkuat sinergi serta saling menghargai peran masing-masing demi menjaga kondusivitas wilayah.
​Sambil menikmati kopi, diskusi hangat sudah mengalir bahkan sebelum acara resmi dimulai. Begitu sesi perkenalan dibuka, AKBP Wiwin memaparkan rekam jejak penugasannya serta visi-misi singkat selama memimpin Korps Bhayangkara di Tulungagung.
​Sentil Fenomena Sound Horeg dan Slogan Jogo Tulungagung
​Memasuki sesi tanya jawab, suasana berubah kian dinamis. Para jurnalis menyampaikan beragam realita lapangan yang menyedot perhatian publik. Firman, salah satu jurnalis, menyoroti fenomena keberadaan sound horeg yang belakangan meresahkan masyarakat.
​”Alasan bahwa kegiatan ini menggerakkan ekonomi sebenarnya tidak seratus persen benar. Dampak ekonominya sebatas dirasakan pemilik persewaan sound dan beberapa warga sekitar, sementara masyarakat umum justru terganggu kebisingan. Regulasi soal ini sudah jelas dan perlu dikaji lebih dalam,” tegas Firman.
​Tak hanya itu, persoalan slogan Jogo Tulungagung turut diangkat oleh Agus, jurnalis media online. Ia mengingatkan agar narasi menjaga keamanan daerah tidak cuma dibebankan kepada rakyat, tetapi juga wajib diresapi oleh para penentu kebijakan dan Aparat Penegak Hukum (APH). Pernyataan pejabat yang mencederai perasaan publik dinilai bisa memicu ketidakpuasan serta mengganggu stabilitas daerah.
​Sikap Responsif Polsek dan Penanganan Konvoi Silat
​Isu teknis peliputan di lapangan juga menjadi bahasan hangat. David, jurnalis media harian, mengeluhkan sikap jajaran di tingkat Polsek yang terkesan lambat dan sering melempar konfirmasi ke jajaran Polres saat ada kejadian.
​”Kami paham ada prosedur resmi dari Polres, tapi konfirmasi awal dari Kapolsek sangat penting untuk kecepatan berita. Kami berharap Kapolsek bisa lebih responsif,” ujarnyа.
​Di sisi lain, David juga menyoroti aksi konvoi oknum perguruan silat yang kerap terjadi di wilayah selatan Tulungagung. Menurutnya, penanganan gesekan ini tidak bisa terus-menerus dibebankan kepada unit Reskrim semata, melainkan butuh keterlibatan aktif Pemerintah Daerah selaku pembina organisasi.
​Lewat dialog interaktif ini, Kapolres diharapkan hadir sebagai fasilitator sekaligus mediator yang mampu menyeimbangkan kepentingan masyarakat, insan pers, dan para pemangku kebijakan di Kabupaten Tulungagung. (don1)











