
Banyuwangi, ArahJatim.com – Momentum peringatan hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April ini, dimanfaatkan oleh kartini-kartini tua di desa Kemiren, Kecamatan, Glagah, Kabupaten Banyuwangi untuk tetap berekspresi.
Meski raut wajah mereka tampak keriput dan tak secantik dulu lagi, namun kartini-kartini tua tersebut tak mau menyerah tergerus oleh zaman dan tetap ingin menghibur wisatawan yang datang, baik lokal maupun mancanegara.
Dengan menggunakan alu untuk menumbuk padi, kartini tua memainkan musik lesung atau yang biasa disebut Gedhokann dengan irama yang rancak. Kini, kesenian Gedhokann atau menabuh alat penumbuk padi, menjadi destinasi pilihan bagi wisatawan yang berkunjung di Banyuwangi.
Ada 6 orang yang biasa memainkan alat musik Gedhokan dengan dibantu satu pemain angklung untuk mengiringi irama dalam setiap lagu yang dimainkan. Dahulu, Gedhokan hanyalah untuk menumbuk padi, namun seiring kemajuan zaman, berubah menjadi sebuah pertunjukan musik etnik yang sangat menarik untuk ditonton.
Misnah (70), salah satu pemain Gedhokan mengaku mengenal musik tersebut sejak tahun 1999 lalu. Sejak zaman dulu lesung sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk menumbuk padi. Namun seiring perkembangan zaman dan maraknya mesin penggilingan padi, lesung saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi oleh masyarakat.
“Sejak dahulu saya menjadi pemukul lesung. Dulu memang untuk menumbuk padi. Tapi saat ini sudah ada selep, jadi kegiatan ini sekarang menjadi kesenian tradisional Gedhokan,” ujar Misnah.
Misnah menambahkan, dahulu ada beberapa grup pemain musik Gedhokan di Desa Kemiren. Namun karena umur dan kesehatan mereka menurun, banyak yang berhenti. Sebagian lagi meninggal dunia.
“Sekarang sudah banyak yang meninggal dunia. Ada juga yang sakit. Saat ini tinggal 6 orang yang main untuk menghibur wisatawan yang datang,” pungkasnya.
Aekanu Haryono, budayawan Banyuwangi mengaku, tradisi ini kini terancam punah. Sebab regenerasi pemain musik Gedhokan belum bisa terealisasi dengan baik. Meski demikian, beberapa masyarakat mulai mencari dan mendidik pelaku seni Gedhokan yang kini mulai digemari wisatawan.
“Ini tergantung dari masyarakat. Tapi di beberapa tempat mulai melakukan regenerasi,” tambahnya.

Renegenasi tidak dilakukan dengan cara ekstrem. Pemain musik Gedhokan yang sudah uzur tidak langsung diganti, melainkan tetap diberikan porsi yang cukup untuk menghibur khusus wisatawan.
“Mereka akan tetap bermain disini. Regenerasi tidak dilakukan dengan cara diganti langsung. Malah membuat sakit hati pemain musik yang sudah tua . Biarlah mereka tetap menghibur wisatawan. Karena dengan seperti ini, meski mereka sudah tua tapi tetap bisa bermanfaat untuk orang lain. Intinya itu,” pungkas Aekanu. (ful)










