Belajar di Stasiun, Peserta Didik SLB B-C Putera Bangsa Praktik Cetak Tiket hingga Pahami Aturan Keselamatan
Madiun, ArahJatim.com – Belajar tentang kereta api tidak harus selalu di dalam kelas. Bagi peserta didik SLB B-C Putera Bangsa, pengalaman mengenal dunia perkeretaapian justru menjadi lebih menarik ketika mereka bisa melihat, mencoba, dan berinteraksi langsung di lingkungan stasiun.
Pengalaman tersebut mereka dapatkan melalui program Eduspoor yang digelar PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang edukatif sekaligus inklusif untuk mengenalkan dunia perkeretaapian kepada para peserta didik.
Sejak awal kegiatan, para siswa diajak mengenal berbagai hal tentang kereta api, termasuk beragam profesi yang ada di balik pelayanan perjalanan kereta api.
Salah satunya adalah profesi petugas loket. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab petugas loket, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mencoba secara langsung proses pencetakan tiket menggunakan loket box.
Suasana belajar pun terasa lebih hidup. Para peserta dapat melihat secara langsung bagaimana proses pelayanan kepada pelanggan dilakukan di stasiun.
Selain mengenalkan profesi dan layanan perkeretaapian, KAI Daop 7 Madiun memberikan materi yang tidak kalah penting, yakni edukasi keselamatan perjalanan kereta api.
Peserta diajak memahami sejumlah aturan dasar saat berada di lingkungan stasiun maupun ketika menggunakan kereta api. Mulai dari mengikuti arahan petugas, tertib di area stasiun, memperhatikan batas aman di peron, hingga tidak melakukan aktivitas yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun perjalanan kereta api.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun Tohari mengatakan, edukasi keselamatan menjadi bagian penting dalam kegiatan Eduspoor.
“Melalui Eduspoor, kami tidak hanya mengenalkan kereta api dan berbagai profesi di dalamnya, tetapi juga mengajak peserta didik untuk memahami pentingnya keselamatan. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh hari ini dapat menjadi bekal bagi mereka ketika menggunakan kereta api maupun saat berada di lingkungan perkeretaapian,” ujar Tohari.
Menurutnya, penyampaian materi keselamatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan metode yang menyesuaikan karakter peserta didik.
Dengan pendekatan interaktif, pesan keselamatan diharapkan tidak sekadar didengar, tetapi juga lebih mudah dipahami dan diingat.
“Kami ingin keselamatan disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Anak-anak dapat belajar sambil bermain, mencoba langsung, sekaligus mengenal aturan yang harus dipatuhi ketika berada di stasiun dan menggunakan kereta api,” tambahnya.
Program Eduspoor juga terus dikembangkan sebagai bagian dari komitmen KAI Daop 7 Madiun dalam memberikan edukasi perkeretaapian kepada masyarakat, termasuk kepada peserta didik berkebutuhan khusus.
Hingga Triwulan III 2026, tercatat sebanyak 5.732 peserta dari 59 sekolah telah mengikuti program Eduspoor dan mendapatkan pengalaman langsung mengenai dunia perkeretaapian.
Angka tersebut menunjukkan bahwa edukasi tentang kereta api tidak hanya menyangkut cara menggunakan transportasi publik, tetapi juga bagaimana membangun budaya tertib dan selamat sejak usia dini.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan memiliki wawasan lebih luas tentang dunia perkeretaapian, mengenal berbagai profesi di dalamnya, sekaligus memahami pentingnya disiplin dan keselamatan ketika berada di stasiun maupun saat melakukan perjalanan.
KAI Daop 7 Madiun pun menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan edukasi yang inklusif, ramah, menyenangkan, dan berorientasi pada keselamatan.
Sebab, mengenalkan budaya keselamatan sejak dini bukan sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kebiasaan agar perjalanan menggunakan transportasi publik dapat berlangsung aman dan nyaman bagi semua. (das)










