Kediri, ArahJatim.com – Suasana di kawasan Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri tampak berbeda dari biasanya. Ratusan warga dari berbagai latar belakang—mulai dari lintas komunitas, tokoh masyarakat, hingga para pelajar—tumpah ruah memadati jalanan desa untuk mengikuti Kirab Kebangsaan memperingati Hari Konstitusi Republik Indonesia, Selasa (18/8).
Sejak rombongan iring-iringan bergerak dari Balai Desa Pojok menuju Situs Persada Sukarno Dalem Pojok, nuansa khidmat langsung menyelimuti rombongan. Di barisan paling depan, para tokoh spiritual berjalan memimpin rute. Tepat di belakang mereka, simbol negara Garuda Pancasila tampak gagah, diapit tegak oleh plakat Pancasila dan teks Pembukaan UUD 1945.
Iring-iringan Galeri Foto Presiden dan Bendera Raksasa
Kemeriahan makin terasa saat deretan foto Presiden Republik Indonesia diarak satu per satu. Uniknya, galeri visual ini menampilkan perjalanan sejarah kepemimpinan bangsa, mulai dari Sang Proklamator Ir. Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto.
Tak kalah menyedot perhatian, belasan muda-mudi membentangkan bendera Merah Putih berukuran raksasa di sepanjang jalan. Warga sekitar yang menyemut di pinggir rute kirab tak henti-hentinya mengabadikan momen penuh kebanggaan tersebut melalui gawai mereka.
Setibanya peserta di kompleks Situs Dalem Pojok, sambutan hangat dihadirkan lewat alunan musik dan penampilan seni tari tematik kebangsaan dari Sanggar Tari Sasono Panji Saputro. Rangkaian kegiatan berlanjut dengan upacara bendera yang hening, doa bersama lintas agama, serta aksi sosial penyerahan santunan bagi puluhan anak yatim.
Mengingat Kembali Momen Vital 18 Agustus
Ketua Harian Situs Persada Sukarno Dalem Pojok, Kushartono, menuturkan bahwa agenda ini sengaja digelar untuk mengajak masyarakat menyelami kembali rekam jejak sejarah yang kerap terlewatkan.
”Hari ini adalah hari besar nasional berdasarkan Keppres Nomor 18 Tahun 2008 yang menetapkan 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi. Lebih dari itu, kami memaknai hari ini sebagai hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Kushartono.
Kushartono menjelaskan, tradisi syukuran dan doa lintas agama sebenarnya rutin diselenggarakan sejak 2018. Namun, peringatan yang dikemas melalui kirab masif dengan melibatkan gabungan elemen masyarakat luas baru pertama kali ini menggetarkan Kediri.
Menurutnya, publik kerap terfokus pada perayaan Proklamasi Kemerdekaan tanpa menyadari ada dua momen krusial yang saling melengkapi di bulan Agustus.
”Belum banyak yang familier bahwa ada dua hari besar beruntun: Hari Proklamasi Kemerdekaan Bangsa pada 17 Agustus, dan Hari Konstitusi—atau yang kami maknai sebagai Hari Berdirinya NKRI—pada 18 Agustus,” ungkapnya.
Usulan Resmi Penetapan Hari Berdirinya NKRI
Ada argumen historis yang mendasari penyebutan tersebut. Secara tata negara, teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 merupakan peryataan kemerdekaan bangsa. Sementara itu, kelengkapan negara seperti pengesahan UUD 1945, pembentukan wilayah, hingga pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden baru sah digedok sehari setelahnya, yakni 18 Agustus 1945.
Langkah edukasi masyarakat ini tidak lahir begitu saja, melainkan berakar dari hasil kajian dan diskusi panjang bersama sejumlah pakar ternama tanah air, di antaranya sejarawan Prof. Anhar Gonggong dan ahli hukum tata negara Prof. Jimly Asshiddiqie.
”Berdasarkan kajian mendalam dan diskusi bersama Prof. Anhar Gonggong serta Prof. Jimly Asshiddiqie, kami dari Situs Perjuangan nDalem Pojok bersama Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia telah berkirim surat resmi kepada Presiden. Kami mengusulkan agar 18 Agustus tidak hanya diperingati sebagai Hari Konstitusi, tetapi juga ditetapkan secara resmi sebagai Hari Berdirinya NKRI,” tutup Kushartono. (das)









