Kediri, ArahJatim.com – Di tengah proses perizinan yang masih berjalan untuk pembangunan sebuah gereja di Kelurahan Mojoroto, suara-suara warga sekitar justru menunjukkan sikap dewasa dan penuh toleransi. Alih-alih ribut soal perbedaan keyakinan, warga RT 17 Mojoroto lebih memilih hidup rukun dan saling menghormati.
Diah Wekti, salah satu warga yang rumahnya berdampingan langsung dengan lokasi gereja yang tengah dibangun, mengaku tidak pernah merasa terganggu.
Enggak ada masalah sama sekali. Kegiatannya juga cuma hari Minggu, dari jam delapan sampai jam sepuluh. Kadang malah selesai lebih cepat. Sama sekali enggak ganggu,” ujar Diah saat ditemui di rumahnya, Jum’at (31/7/2025).
Nada serupa disampaikan oleh Suparti (55), warga yang sudah puluhan tahun tinggal di lingkungan tersebut. Ia justru merasa bahagia hidup di tengah keberagaman.
“Sebagian besar warga di sini tidak mempersoalkan pembangunan gereja itu. Saya sebagai Muslim merasa tidak terganggu, justru senang bisa hidup berdampingan dengan umat Kristiani. Mereka juga sudah lama ibadah di rumah dekat situ, dan selama ini tidak pernah ada masalah,” tutur Suparti sambil membetulkan hijabnya.
Proses Masih Berjalan, Warga Diminta Tenang
Sementara itu, Ketua RT 17 Aria menegaskan bahwa hingga saat ini proses pembangunan gereja masih dalam tahap pembahasan dan sosialisasi. Ia mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan mengikuti prosedur sesuai aturan yang berlaku.
“Yang terbaru, saat ini masih dalam proses pembicaraan. Sudah ada sosialisasi awal, dan nanti akan dilanjutkan sosialisasi di tingkat RT. Masalah ini belum selesai, jadi harap semua bisa menahan diri agar prosesnya berjalan baik,” jelas Aris
Aris juga menegaskan agar tidak ada pihak yang memaksakan kehendak dalam proses ini. Semua berjalan berdasarkan aturan dan kesepakatan bersama, termasuk keputusan untuk mengulang proses dari nol agar lebih transparan dan bisa diterima oleh semua pihak.
“Saya baru mulai terlibat sejak 2025 ini, dan sejauh yang saya tahu, tidak ada tekanan atau paksaan dari pihak manapun. Semua warga tetap bisa menyampaikan aspirasi, dan prosesnya kita ikuti bersama. Karena mulai dari nol, maka sebaiknya pembangunan juga ditunda dulu sampai semua tahapan selesai,” Tutupnya.
Harmoni yang Perlu Dijaga
Kisah warga Mojoroto ini menjadi cermin bahwa kehidupan lintas iman bukanlah sesuatu yang mustahil. Mereka yang hidup bertetangga justru lebih memahami arti kerukunan dibanding mereka yang hanya melihat dari kejauhan.
Perbedaan tak harus jadi alasan untuk berselisih. Justru dalam perbedaan itu, masyarakat Mojoroto menunjukkan bahwa damai bisa dimulai dari rumah, bahkan dari rumah ibadah. (das)










