Tabuhan Hadrah Meriahkan Festival Kuntulan Caruk Banyuwangi

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/48852309072_6e00d48a61_b.jpg
Festival Kuntulan Caruk sukses digelar Sabtu (5/10/2019) malam. Diikuti puluhan grup kuntulan tingkat SLTA se-Banyuwangi. Secara bergantian, mereka tampil menyuguhkan atraksi terbaiknya. (Foto: arahjatim.com/hmsbwi/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Festival Kuntulan Caruk yang digelar Pemkab Banyuwangi, Sabtu (5/10/2019) malam sukses memukau ribuan penonton. Pukulan alat musik hadrah yang dimainkan para siswa SLTA untuk mengiringi tari Kuntulan terdengar membahana di Gesibu Blambangan Banyuwangi, tempat diadakannya festival.

Dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, festival kuntulan disaksikan ribuan pecinta kesenian ini dari berbagai usia.

Dijelaskan Yusuf, dengan sentuhan nilai-nilai Islami, seni budaya Kuntulan tumbuh subur di Banyuwangi. Kuntulan memadukan antara tarian dan musik hadrah. “Caruk” sendiri dalam Bahasa Osing berarti bertemu.

“Jadi Festival Kuntulan Caruk adalah semacam lomba yang mempertemukan grup-grup kuntulan se-Banyuwangi dalam sebuah pentas. Kami mengangkat festival ini, karena Kuntulan adalah salah satu budaya lokal yang telah membumi di Banyuwangi,” ujar Wabup Yusuf.

Dalam kesenian ini, para penari menampilkan tari Rodat sembari membawakan bait-bait pujian Islami. Kostum yang dikenakan penari terkesan santun, seperti memakai kerudung dan sarung tangan, hingga memakai kaos kaki yang menutupi seluruh aurat pada tubuh.

Tarian yang dibawakan para penarinya pun banyak memanfaatkan gerakan tangan dan kaki. Yang membuat istimewa Kuntulan, adalah iringan musik hadrah dari para penabuhnya. Mereka menabuh hadrah sebagai musik pengiring dengan semangat dan rancak.

Festival ini diikuti puluhan grup kuntulan tingkat SLTA se-Banyuwangi. Secara bergantian, mereka tampil menyuguhkan atraksi terbaiknya.

“Gebrakan hadrahnya membuat kami serasa bersemangat. Musiknya keren, kostumnya juga oke,” kata Imam, wisatawan dari Surabaya yang turut menyaksikan atraksi tersebut.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melalui sambungan facetime menambahkan bahwa sejak tahun lalu Festival Kuntulan Caruk telah masuk dalam agenda resmi  Banyuwangi Festival (B-Fest). Ini sebagai upaya untuk terus merawat dan melestarikan tradisi Banyuwangi.

“Semoga ini bisa menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya lokal. Kami berharap agar anak-anak Banyuwangi tetap mencintai budaya daerahnya di tengah gempuran budaya asing yang kian kuat,” kata Anas.

 

Dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, Festival Kuntulan Caruk sukses memukau ribuan pecinta kesenian ini dari berbagai usia. (Foto: arahjatim.com/hmsbwi/ful)

Selanjutnya, Anas juga menyampaikan bahwa B-Fest telah masuk jajaran Top 45 inovasi pelayanan publik terbaik dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dari 3.156 program inovatif se-Indonesia yang masuk dalam penilaian.

“Sebagai reward, kita akan diganjar Rp. 10 Miliar dari pemerintah pusat. Semoga ini bisa menjadi trigger bagi kita untuk terus melahirkan inovasi-inovasi hebat dengan merangkul budaya seni lokal kita,” pungkas Anas. (adv.hmsbwi/ful)