
Kediri, ArahJatim.com – Genap satu tahun peristiwa bom Surabaya. Warga Surabaya tentu ingatannya masih melekat hingga saat ini.
Kala itu, tanggal 13-14 Mei 2018 tiga tempat ibadah umat kristiani menjadi sasaran pengeboman, bahkan markas polisi Polrestabes Surabaya juga jadi sasaran.
Tiga tempat di antaranya tempat ibadah di Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.
Kejadian itupun membuat mengguncang warga Surabaya. Saling cela dan mengutuk atas peristiwa tersebut kala itu.
Mengenang satu tahun peristiwa bom Surabaya 2018 lalu, bukan berarti mengingatkan permusuhan atau kebencian terhadap orang lain.
Ledakan bom ditempat tiga Gereja membuat pihak aparat kepolisian disibukan untuk melakukan identifikasi kejadian itu.
Di saat pihak kepolisian sibuk, bom meledak di depan kantor Polrestabes Surabaya.
Pada saat itu suasana cengang mendadak heboh. Dan kala itu anggota Polrestabes Surabaya yang berjaga menjadi korban bom bunuh diri.
Selain itu, seorang Perwira Polisi Polrestabes Surabaya memberanikan diri menyelamatkan anak terduga teroris yang masih hidup. Ia adalah Kasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Roni Faisal Saiful Faton.
Kini, AKBP Roni Faisal Saiful Faton menjabat sebagai Kapolres Kediri. Tentunya publik tahu bahwa AKBP Roni Faisal Saiful Faton menyelamatkan anak terduga teroris itu.
Mendengar suara ledakan dikantornya kala itu ia langsung bergegas bergerak melakukan pengamanan dan indentifkasi.
Namun, saat itu ia mendengar suara bocah perempuan menangis meminta tolong. AKBP Roni Faisal langsung menyelamatkan bocah tersebut di tempat kejadian perkara bom.
“Mendengar suara anak minta tolong saya langsung berlari menyelamatkannya. Saya evakuasi, saya bopong dan saya berlari membawa ke tempat aman, lalu mendapat penanganan medis, ” tutur AKBP Roni Faisal, ” Selasa (14/5/2018).
Kapolres Kediri menceritakan kala itu, pada saat lokasi ledakan terdapat mobil yang terbakar. Situasi yang panik ia mendengar anak minta tolong.
“Naluri dan rasa kemanusiaan yg membuat tergerak utk menyelamatkan anak itu,” ungkapnya.
Tentunya tidaklah mudah dalam menyelamatkan anak si pelaku. Situasi yang tertekan dan kritis harus mempunyai perhitungan yang tepat menyelamatkan bocah itu.
“Keberanian tentunya. Dan perhitungan yang tepat untuk menyelamatkannya serta pengalaman,” ungkap mantan pasukan satuan gegana Brimob ini.
Paska kejadian itu, AKBP Roni Faisal kaget. Karena setelah dievakuasi ternyata masih ada bom masih aktif yang terlilit di tubuh pelaku. Bila saat menolong ternyata bom itu meledak pasti nyawa melayang.
“Ternyata setelah dilakukan evakuasi ada bom yang masih aktif melilit ditubuh pelaku. Wah apa jadinya kalau saat itu meledak,” jelas AKBP Roni yang pernah bertugas didaerah konflik.
Kenangan peristiwa itu tentunya akan terus diingat oleh AKBP Roni Faisal Saiful Faton dimana pun ia berada.
Kini AKBP Roni Faisal, menjabat Kapolres Kediri. Ia keliling patroli di wilayah hukum Polres Kediri dan bersentuhan langsung dengan warga Kediri.
Hal itu dilakukan untuk mewujudkan situasi Kamtibmas di Kabupaten Kediri berjalan dengan aman, nyaman, sejuk, indah, damai dan tentunya kondusif.(das)










