Di depan kader KOHATI 2026, mantan penyidik KPK ini sentil pengelolaan Wilayah Pertambangan Rakyat yang cuma menyumbang 2 persen ke negara.
Jember, ArahJatim.com — Dunia penegakan hukum tak pernah sepi dari ujian moral. Pengalaman pahit sekaligus membanggakan itu dibagikan langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jember, Dr. Yadyn, S.H., M.H., saat berdiri di hadapan puluhan aktivis mahasiswa.
Di panggung Stadium General Opening Ceremony Kohati Future Leader 2026: Sekolah Pemimpin Perempuan KOHATI di Hotel Green Hill, Jumat (16/10/2026), mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini membuka cerita yang bikin bulu kuduk berdiri.
Pria yang enam tahun mengabdi di komisi antirasuah tersebut mengungkapkan betapa dahsyatnya godaan materi yang pernah menghampirinya saat menangani kasus-kasus besar.
”Saya pernah disodok tawaran suap mulai dari Rp10 miliar hingga Rp43 miliar untuk satu perkara,” ujar Yadyn di hadapan peserta.
Bagi Yadyn, cerita itu bukan untuk kesombongan, melainkan pelajaran mahal bagi para calon pemimpin masa depan. Ia menegaskan bahwa kejujuran dan harga diri seorang penegak hukum maupun pemimpin tidak boleh tergadaikan oleh angka sebesar apa pun.
Ia meminta kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps HMI Wati (KOHATI) untuk menempa diri menjadi pribadi yang utuh, memiliki integritas tinggi, kerja keras, profesionalisme, serta kepemimpinan yang berakar pada nilai kepedulian.
Sentil Pengelolaan SDA dan Potensi Rp300 Juta per Warga
Tidak hanya bicara moralitas, Kajari Jember ini juga menyoroti isu krusial terkait pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), khususnya Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).
Menurut analisanya, kekayaan alam Indonesia sangat melimpah jika dikelola secara efisien, jujur, dan transparan. Jika potensi WPR dihitung dan dimaksimalkan dengan benar, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat luas.
”Jika dimaksimalkan, setiap warga bisa mendapatkan sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta. Namun sayang, akibat pengelolaan yang buruk, negara dan rakyat sering kali hanya mendapatkan 2 hingga 3 persen saja,” tegas Yadyn disambut antusias peserta.
Melihat fakta tersebut, ia berharap kegiatan pelatihan kepemimpinan perempuan seperti ini tidak sekadar berakhir sebagai wacana seremonial. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI harus benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.
Wadah Melahirkan Pemimpin Perempuan Berkarakter
Ketua KOHATI HMI Cabang Jember, Hanny Hilmia Fairuza, menjelaskan bahwa agenda yang berlangsung selama tiga hari ini dirancang khusus untuk membentuk benteng karakter kepemimpinan perempuan di era modern.
Untuk memberikan perspektif yang kaya, pihaknya menghadirkan jajaran narasumber berkompeten, mulai dari akademisi Prof. Novi, anggota DPRD Jember Indi, hingga tim master training dari HMI Badko Jawa Timur.
”Kami ingin melahirkan profil pemimpin perempuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kukuh dalam integritas,” jelas Hanny.
Dukungan senada disampaikan Ketua Umum HMI Cabang Jember, Ahmad Ridwan. Ia mengapresiasi kerja keras pengurus KOHATI yang konsisten menciptakan ruang penggemblengan bagi kader-kader perempuan.
Melalui forum ini, para kader KOHATI diharapkan siap melangkah keluar ke tengah masyarakat: membawa perubahan, menjaga integritas, dan memberi dampak nyata bagi bangsa. (nsl)










