Cerita Matthew Gladden, Advokat Korban Dugaan Penganiayaan

oleh
oleh

Surabaya, ArahJatim.com – Nama Matthew Gladden tiba-tiba mencuat di pemberitaan media di Surabaya beberapa waktu yang lalu. Ini tak lepas dari kasusnya yang diduga dianiaya saat mendampingi kliennya di Apartemen Purimas Surabaya bersama dengan rekannya yang lain.

Hantaman di ulu hati dan rahangnya membuatnya mengeluh kesakitan setelah ia menerima pukulan itu sebanyak dua kali di perutnya.

Kejadian itu bikin geger DPC Peradi Surabaya, organisasi yang menaungi Matthew selama ini. Advokat magang itu didampingi sejumlah pengacara senior yang berang untuk melakukan pelaporan di Polda Jatim pada 15 Juni.

pasang iklan_rev3

Laporan itu diterima Polda Jatim dengan tanda bukti lapor nomor TBL/B/321.01/VI/2022/SPKT/Polda Jawa Timur.

Mattew bercerita setelah beberapa hari sebelumnya dia mengalami kejadian itu. Ia mengalami mual dan tidak enak badan setelahnya.

“Setelah kejadiannya, baru terasa yang lumayan parah. Di perut saya merasa mual, terus akhirnya beberapa kali saya muntah sekitar dua kali, dan besoknya juga beberapa kali,” aku Matthew, Kamis (30/6).

Tak sampai di situ, mualnya Matthew dibarengi dengan kepalanya yang merasakan pusing hingga mempengaruhi pandangannya.

Ulah pelaku, kata Matthew sebetulnya ia berfikiran tidak akan berdampak apa-apa padanya. Namun itu setelah dirinya melakukan laporan ke Polda Jatim dan bergegas untuk beristirahat, pencernaannya terganggu. Ia tak bisa makan.

“Jadi istilahnya perutnya seperti penuh terus. Terus tetap masih pusing-pusing juga,” katanya.

Bergegas ke dokter, namun dokter menyarankan Matthew untuk menjalani rawat inap. Ia menahan sakitnya selama tiga hari dua malam.

“Jadi saya diinfus karena kan susah makan,” bebernya.

Sampai saat ini Matthew mengaku mengalami trauma atas kasus tersebut. Ia masih merasakan ketakutan.

“Kalau sekarang masih lumayan was-was pergi ke daerah sana. Seperti ada traumatik,” pungkasnya.

Pengakuan yang Sama dari Penasihat Hukum

Pernyataan Matthew Gladden dibenarkan oleh Salawati Taher, penasihat hukumnya untuk kasus dugaan penganiayaan ini. Sala, begitu ia dipanggil menyatakan jika memang benar juniornya itu dipukul dua kali di bagian perutnya.

“Waktu kejadian saya ada di TKP. Saya sudah bilang kalau itu tim saya. Tapi tetap ada pemukulan di depan saya. Memang dua kali ditonjok perutnya,” jelas Sala.

Pemicu dari peristiwa itu Sala tidak begitu memahaminya. Hanya saja ketika Matthew memilih untuk pergi dari lokasi, dia terus dikejar oleh terduga pelaku.

“Pemicunya saya tidak paham. Itu setelah ditonjok dan Matthew pergi masih saja dikejar aja Matthew itu,” jelasnya.

Sala melanjutkan, Matthew berkepentingan masuk di lokasi kejadian karena ia membawa berkas yang diperlukan untuk mendampingi klien.

Perihal harapannya, Sala mengatakan kasus ini agar pihak kepolisian segera menindaklanjutinya agar di kemudian hari tidak lagi terjadi tindakan yang serupa.

“Cepat dilakukan pemeriksaan ya biar kesannya tidak ada backing atau kebal hukum. Makanya kami berharap bapak Kapolrestabes Surabaya untuk mengawal penegakan hukumnya. Dan menunjukkan program Presisi yang dicanangkan oleh Kapolri itu memang ditegakkan,” harapnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.