Tak Selalu Manis, Buah Naga Terkadang Terasa “Pahit” bagi Petaninya

oleh -
Mahrus Ali, Salah satu petani buah naga, warga Desa Kradenan Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi memanen buah naga meskipun harganya anjlok untuk membiayai biaya perawatan dan operasional. (Foto: arahjatim.com/nur)

Banyuwangi , Arahjatim.com – Buah naga memang berasa manis, terlebih daging buah dengan tekstur lembut dan berair banyak disukai masyarakat untuk menambah asupan gizi. Namun dua bulan terakhir, terasa “pahit” bagi petaninya sendiri karena harganya tidak sesuai dengan harapan. Di sentra buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, buah naga di tingkat petani dihargai bervariasi dari Rp. 1000 hingga Rp. 5000 perkilogram.

Pukulan telak soal harga menjatuhkan mental petani buah naga di Banyuwangi pada bulan Januari 2018. Untuk buah naga klasifikasi C harganya Rp 1000 perkilogram, sedang paling atas, buah naga klasifikasi A perkilogram harganya Rp. 4000. Klasifikasi harga tersebut terbentuk dari permintaan pasar. Bagus tidaknya buah naga dilihat dari sisi bentuk, besar kecil, serta rasanya.

“Sekarang buah naga memang naik turun, tapi sejak bulan Januari, ini yang memukul, sampai bulan Febuari (sekarangpun) masih belum juga beranjak dari harga itu-itu,” kata Mahrus Ali, petani buah naga warga Desa Kradenan Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi.

Masih menurutnya, harga tersebut jauh dari harga ideal yang diharapkan petani, yakni Rp. 10.000 perkilogram untuk buah naga klasifikasi A dan Rp. 5000 untuk buah naga klasifikasi B.

“Bagi petani buah naga yang konvensional (mengandalkan alam untuk pembuahan), meruginya belum seberapa. Tapi bagi petani buah naga yang modern dengan memakai penerangan lampu malam hari untuk pembuahan, ini jelas-jelas terasa dalam meruginya,” jelas Mahrus.

Di luar biaya tanam, bibit, dan sewa, lahan buah naga memerlukan perawatan rutin. Untuk lahan seperempat hektar atau 200an meter persegi bisa ditanami 280 batang pohon buah naga. Dengan sistem konvensional, tanaman perlu pupuk setidaknya 3 bulan sekali, obat-obatan 20 hari sekali, menyiangi rumput dan biaya operasional bagi yang mempekerjakan orang. Diperkirakan perlu biaya sekitar Rp. 500.000 perbulan.

“Kalau pakai lampu lebih besar lagi karena memakai listrik, terlebih harga beban listrik terus naik,” imbuhnya.

Warga Banyuwangi memilih membudidayakan buah naga karena lahannya cocok dan masih menjanjikan keuntungan. (Foto: arahjatim.com/nur)

Dugaan sementara penyebab turunnya harga adalah melimpahnya buah naga di pasaran karena bersamaan dengan panenan buah lain semisal rambutan, manggis, dan durian. Namun petani buah naga sadar memang harga buah selalu naik turun dari waktu ke waktu.

“Oleh karenanya sebagai petani sekarang memang harus ada terobosan, misalnya menanam buah lain yang masih jarang ditanam, biasanya harganya bagus,” tandasnya.

Banyuwangi merupakan sentra buah naga, dimana ratusan hektar tanaman buah naga menghampar dan menjadi tulang punggung penghasilan bagi warga di beberapa kecamatan. Misalnya Kecamatan Pesanggaran, Siliragung, Bangorejo, Purwoharjo dan Kecamatan Sempu. (nur)