Soelistiyo Menyulap Karung Goni Bekas Jadi Tas Menarik Bergaya Etnik

oleh -
Di tangan Soelistiyo, karung-karung goni bekas disulap menjadi barang yang mempunyai fungsi dan bernilai seni tinggi, serta mempunyai nilai ekonomi. (Foto: arahjatim.com/das)

Kediri, Arahjatim.com – Siapa sangka karung goni bekas bisa diolah kembali menjadi barang yang mempunyai fungsi dan bernilai seni tinggi, serta mempunyai nilai ekonomi. Di tangan Atin Soelistiyono warga Jalan Rinjani Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, karung goni bekas wadah produk pertanian seperti beras, teh, kopra, atau kacang, diubah menjadi aneka tas bermotif etnik. Tas yang dipasarkan lewat media sosial ini banyak digemari pelanggan dari berbagai daerah, baik dari Jawa maupun luar pulau Jawa.

Sejak dua tahun lalu disela kesibukannya sebagai pedagang kaki lima, Soelistiyo mencoba memanfaatkan karung goni yang didapat dari pedagang di pasar untuk dijadikan tas, karena seratnya cukup menarik. Diakuinya, kemampuan membuat tas ini didapat dari belajar secara otodidak, dan awalnya hanya coba-coba.

Soelistiyo mengaku, satu karung goni didapat dari pedagang seharga Rp 5.000 hingga Rp 15.000 tergantung kualitasnya. Sementara tiap satu karung goni bisa dijadikan 4 buah tas ukuran besar (25×20 cm) atau 6 buah ukuran kecil.

“Dalam sehari mampu mengerjakan tas ukuran kecil sebanyak 3 sampai 4 buah, sedang ukuran besar mampu diproduksi sehari 1 hingga 2 buah, sebab pengerjaannya sangat manual. Kendala yang dihadapi saat musim penghujan, karena proses pengeringan cukup lama,” ujarnya.

Untuk membuat tas, karung goni bekas harus dicuci lebih dahulu kemudian dipotong sesuai ukuran dan model yang akan dibuat, kemudian bagian tepi potongan karung goni dilem. setelah dilem baru dilakukan penjaitan dengan tangan, karena jika menggunakan mesin jahit hasilnya malah tidak rapi.

Tanpa menggunakan mesin, Soelistiyo membuat tas-tas bermotif etnik dari bahan karung goni bekas. (Foto: arahjatim.com/das)

Setelah proses menjahit selesai, proses terakhir membuat tali atau sabuk tas, dengan cara meronce benang dari karung goni sedemikian rupa. Tas karya Soelistiyo ini banyak diminati pelanggan dari Makassar, Manado, Jakarta, Surabaya, Malang, Bojonegoro, dan sekitar Kediri, dengan cara pemasaran melalui media sosial.

Tas karung goni ini dihargai mulai dari Rp 30.000 hingga Rp 150.000 tergantung pesanan. Dalam sebulan Soelistiyo mampu menjual tas sebanyak 20 hingga 25 buah, dalam berbagai ukuran, dan model. Tidak hanya tas, Soelistiyo juga membuat tempat bolpoin, tempat surat, dan aneka miniatur benda lainnya yang berbahan karung goni.

Untuk meningkatkan produksinya soelistiyo berharap ada campur tangan pemerintah untuk memberikan pelatihan, dan membatu pemasaran karyanya. (das)