Peneliti LIPI Temukan 300 Spesies Flora Di Gunung Tumpang Pitu

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49286899131_a19db8fc35_b.jpg

Banyuwangi, Arahjatim.com – Gabungan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan PT Bumi Suksesindo (BSI) menemukan keberadaan pohon Gaharu Lombok yang tumbuh di kawasan Pegunungan Gunung Tumpang Pitu. Selain Gaharu Lombok, ada juga pohon lain yang mudah ditemui di Tujuh Bukit.

Menurut Peneliti Senior LIPI, Dr. Harry Wiradinata, setidaknya ada ratusan jenis pohon yang sudah terinventarisir peneliti, dan sudah dilakukan penelitian sejak tahun 2015 lalu. Dirinya bukanlah satu-satunya peneliti LIPI yang turun ke kawasan hutan di sekitar area pertambangan mineral PT BSI. Pada tahun 2012 lalu sudah ada lima orang yang terlibat melakukan penelitian lebih dulu.

“Ada sekitar 300 spesies yang kita temukan, 175 di antaranya telah teriventarisir. Dari 175 spesies itu 100 di antaranya adalah pepohonan. Sedangkan 75 lainnya termasuk bambu, perdu, semak-semak, tanaman ternak, dan tanaman menjalar. Tahun ini, saya mengambil foto pepohonan dua kali. Gambar yang hijau kami ambil Januari. Pengambilan gambar kedua di bulan Juli saat masuk musim kemarau,” kata Harry Wiradanata.

Baca juga:

Harry menambahkan, temuannya tersebut sudah dibukukan dengan judul “Flora PT Bumi Suksesindo” yang diluncurkan dan dibedah bersama para mahasiswa di Hotel Santika Banyuwangi, Jumat (27/12/2019) sore. Buku penelitian soal lingkungan di sekitar area tambang Tujuh Bukit merupakan edisi kedua.

Sementara, Senior Manager External Affair, Sudarmono di hadapan para wartawan dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banyuwangi yang hadir dalam acara peluncuran, dan bedah buku tersebut mengatakan, pertama PT BSI memang fokus pada satwa. Sekarang beralih fokus ke tumbuhan.

“Flora harus dilestarikan dengan lebih dulu melakukan inventarisasi sehingga diketahui jenis tumbuhan apa saja yang terdapat di hutan sekitar tambang,” jelas Sudarmono.

Perusahaan pertambangan Tujuh Bukit, tambah Sudarmono, fokus pada tiga hal. Yakni menjaga produktivitas tambang untuk mencari keuntungan, menjaga lingkungan, dan menjaga keselamatan pekerja.

“Menjaga lingkungan sangat melekat dengan PT BSI. Itu tak bisa dikesampingkan. Pelaporan lingkungan dulu tiap enam bulan, sekarang tiga bulan sekali agar lebih terkontrol,” ungkapnya.

Kadis Lingkungan Hidup Banyuwangi, Husnul Chotimah, berharap hasil inventarisasi flora bisa menjadi literatur dan edukasi. Selain itu, BSI diminta menjaga flora tersebut sampai pasca-tambang. Diharapkan pada tahun 2020 PT BSI melakukan penelitian soal mangrove. Terutama pohon bakau yang tumbuh di Pantai Boom Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi.

“Tanaman yang ada di situ ada fungsi ekologi. Secara ekologi tanaman itu pasti ada manfaatnya. Mangrove punya fungsi konservasi. Apa yang di Kalilo punya fungsi ekologi juga harus diteliti,” terang Husnul. (ful)