Kopinang Retro Fashion Show Ramaikan Jalan Dr Wahidin Kediri, Angkat Gaya Jadul Elegan

oleh -
oleh

Kediri, ArahJatim.com – Suasana berbeda tampak di Jalan Dr Wahidin Sisi Timur, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri, Sabtu (17/1/2026). Ratusan warga memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan Kopinang Retro Fashion Show, sebuah pergelaran busana bergaya retro yang digagas komunitas secara swadaya.

Acara yang berlangsung santai namun penuh konsep ini menjadi ruang ekspresi bagi pecinta fesyen, barber, kopi, dan seni jalanan. Tanpa panggung megah, fashion show digelar di ruang publik dengan konsep street event yang akrab dan inklusif.

Digagas Barber, Lahir dari Passion Gaya Hidup

pasang iklan orange

Penggagas acara, Ranggi Samudera, menyebut Kopinang Retro Fashion Show lahir dari kecintaannya pada gaya hidup dan fesyen. Berangkat dari latar belakang sebagai barber, Ranggi melihat fesyen sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Saya basic-nya barber. Barber itu kan erat dengan style dan keseharian. Dari situ muncul ide passion show yang lebih santai, tapi tetap punya konsep,” ujar Ranggi.

Menurutnya, konsep retro dipilih karena ingin menghadirkan nuansa klasik tanpa terkesan berlebihan.

“Jadulan, tapi lebih elegan. Bukan jadul yang norak. Kita ambil yang fun, terkonsep, dan tetap enak dilihat,” tambahnya.

Diikuti 25 Peserta, Usia Bebas Tanpa Batasan

Sebanyak 25 hingga 26 peserta ambil bagian dalam fashion show ini. Menariknya, tidak ada batasan usia maupun latar belakang.

“Usia bebas, nggak ada ikatan. Bahkan yang lebih tua justru kelihatan lebih hebat,” kata Ranggi.

Peserta bebas menentukan busana yang dikenakan, baik koleksi pribadi maupun hasil sewa. Beberapa peserta bahkan merupakan model dan pelaku fesyen profesional.

“Awalnya ini cuma dari teman-teman. Tapi setelah dibuka ke publik, ternyata antusiasnya di luar dugaan,” ujarnya.

Konsep Dadakan, Antusiasme di Luar Ekspektasi

Ranggi mengakui acara ini tidak direncanakan dalam waktu lama. Ide awal muncul secara spontan, lalu berkembang melalui diskusi komunitas.

“Ini konsepnya dadakan. Kayak tahu goreng. Tapi ternyata malah jadi rame dan lebih bulat,” ungkapnya.

Ia menyebut, konsep acara bersifat kolektif. Setiap ide dari komunitas ditampung dan langsung direalisasikan.

“Nggak ada satu konseptor tunggal. Semua ide dari teman-teman, kita jalankan bareng-bareng,” jelasnya.

Lebih dari Fashion Show: Kopi, Seni, dan Literasi

Tak hanya menampilkan peragaan busana, Kopinang Retro Fashion Show juga menghadirkan beragam aktivitas komunitas. Mulai dari street coffee, perpustakaan keliling, barbershop, kuliner UMKM, hingga pertunjukan gravity art.

Ragam kegiatan tersebut menjadikan acara ini bukan sekadar fashion show, melainkan ruang temu lintas komunitas kreatif di Kota Kediri.

Swadaya Komunitas, Tanpa Anggaran Pemerintah

Seluruh rangkaian acara digelar secara mandiri tanpa dukungan anggaran pemerintah. Semua kebutuhan disiapkan melalui gotong royong komunitas.

“Ini murni inisiatif komunitas. Swadaya. Pemerintah belum terlibat,” ujar Ranggi.

Meski demikian, ia berharap ke depan kegiatan serupa bisa digelar lebih besar dan berpindah lokasi, bahkan menjangkau ruang publik lain di Kota Kediri.

Potensi Jadi Agenda Kreatif Kota Kediri

Kopinang Retro Fashion Show menjadi bukti bahwa ruang publik dapat hidup melalui kreativitas warga. Dengan konsep sederhana namun matang, acara ini berhasil menarik perhatian masyarakat sekaligus membuka ruang baru bagi pelaku kreatif lokal.

Ke depan, Ranggi menyebut kemungkinan acara ini dikembangkan menjadi agenda rutin atau bahkan kompetisi, meski saat ini masih sebatas “cek ombak”.

“Kita lihat nanti. Yang penting hari ini bisa jadi ruang senang-senang dan berekspresi,” pungkasnya. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.