Jelang Lebaran, Perajin Songkok Bambu Kebanjiran Pesanan

by -
https://live.staticflickr.com/65535/33976867218_25cfb662cc_b.jpg
Setiap menjelang lebaran seperti saat ini, songkok anyaman bambu hasil karya warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi ramai diburu pembeli. Saking banyaknya pesanan, perajin sampai menolak permintaan konsumen. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, Arahjatim.com – Selain baju dan sarung, songkok juga menjadi barang yang paling dibutuhkan dan jadi buruan masyarakat untuk keperluan lebaran. Namun songkok yang diburu bukanlah songkok biasa, melainkan songkok yang terbuat dari anyaman bambu.

Songkok anyaman bambu hasil karya tangan-tangan kreatif warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, ramai dipesan pembeli menjelang lebaran ini. Di bulan Ramadan, para perajin songkok anyaman bambu terlihat lebih sibuk dari biasanya.

Selain unik, songkok anyaman bambu dipilih karena dirasa lebih awet dan tentunya tahan air. Berbagai bentuk ukuran, dan warna, juga membuat para komsumen tertarik untuk membeli songkok berbahan dasar bambu ini.

Perlu keahlihan khusus dan ketelatenan untuk membentuk anyaman songkok dari bambu, karena semuanya dikerjakan secara manual. Bahan baku bambu pun tidak sembarangan, yaitu bambu apus yang banyak terdapat di desa setempat.

Songkok anyaman bambu cocok untuk segala usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa varian model songkok pun disediakan agar konsumen mendapatkan banyak pilihan, yakni model dadung, standar, dan asatufa.

Harganya pun juga sangat terjangkau, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Songkok model dadung paling banyak diburu masyarakat lantaran harganya paling murah.

Banyak pesanan datang dari luar kota, seperti Surabaya, Madura, Banten dan Aceh. Omzet pun meningkat, jika biasanya hanya Rp 60 juta, sejak masuk bulan Ramadan meningkat jadi Rp 120 juta. (Foto: arahjatim.com/ful)

”Setiap tahun saya langganan beli songkok bambu ini untuk saya jual lagi di Surabaya dan tempat lainnya. Banyak yang cari kok songkok ini, kan terbuat dari anyaman bambu, jadi songkoknya ada ventilasinya. Songkok biasanya cepat rusak dan bau karena keringat, tapi songkok bambu dijamin tidak sampai membuat kepala kita berkeringat,’ ujar Slamet, salah satu pelanggan.

Sejak masuk bulan Ramadan omzet meningkat. Jika sebelumnya hanya Rp 60 juta, saat ini meningkat menjadi Rp 120 juta. Tentu momen tahunan tersebut menjadi berkah tersendiri bagi perajin songkok anyaman bambu.

“Kalau mendekati lebaran atau pas bulan puasa begini ramai yang pesan. Kita hanya menjual secara grosir. Yang pesan banyak dari luar kota, Surabaya, Madura, Banten dan Aceh. Saking banyaknya saya nolak permintaan konsumen karena sudah kebanyakan order,” kata Untung Hermawan, perajin songkok anyanan bambu. (ful)