Dikatakan Anti Pancasila, Anggota DPRD Kota Blitar Geram Dan Berusaha Kejar Orator Aksi

oleh -
Tidak terima cafe Maxi Brilian ditutup oleh Pemkot Blitar atas rekomendasi DPRD Kota Blitar, membuat para pekerjanya berunjukrasa ke gedung DPRD Kota Blitar. (Senin, 7/1/2019) (Foto: ArahJatim.com/mua)

Blitar, ArahJatim.com – Tidak terima cafe Maxi Brilian ditutup oleh Pemkot Blitar atas rekomendasi DPRD Kota Blitar, membuat para pekerjanya berunjukrasa ke gedung DPRD Kota Blitar, Senin (7/1/2018). Mereka bersama aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Pembaharuan Indonesia (GPI), mendesak DPRD agar mengeluarkan rekomendasi memperbolehkan karaoke ini dibuka kembali.

“Apa dasar pemerintah menutup tempat-tempat hiburan apakah ada bukti adanya tarian stripsis ini. Kami selaku masyarakat Blitar, menentang keras adanya striptease (tarian telanjang). Segera bentuk tim pencari fakta, sebab selama ini striptease hanya opini saja. Kalau seperti ini lebih baik tutup semua usaha hiburan dan hotel di Kota Blitar,” kata koordinator aksi Joko Prasetya.

Baca juga :

Massa menilai, jika DPRD telah merekomendasikan hal yang belum tentu benar yang akhirnya dasar yang tidak benar ini juga digunakan oleh Pemkot Blitar untuk membuat keputusan penting (menutup Maxi Brillian).

“DPRD mestinya tidak hanya memanggil satu pihak tapi kedua belah pihak yang ada dalam permasalahan ini,” ungkap Supriyatno, kuasa hukum Maxi Brillian yang turut hadir dalam aksi unjuk rasa.

Dalam aksi unjuk rasa ini sejumlah pemandu lagu juga terlihat ikut dalam aksi tersebut. Mereka membentangkan poster dengan berbagai tulisan. “Kami butuh hidup pikirkan nasib kami pikirkan keluarga kami. Jangan tutup tempat kerja kami,” demikian bunyi salah satu poster yang dibawa pemandu lagu dalam aksi unjuk rasa.

Massa kemudian ditemui oleh Wakil Ketua DPRD Kota Blitar dan beberapa anggota Dewan Kota Blitar. Aksi demo nyaris ricuh, saat Kuasa hukum Maxi Brilian menyebut anggota dewan Kota Blitar anti pancasila dan mengkhianati Pancasila. Dua anggota Dewan Kota blitar yang tidak terima, berusaha mengejar orator aksi. Namun beruntung pihak kepolisian langsung mencegah dan menutup pintu gerbang gedung DPRD Kota Blitar.

“Kami ini dipilih oleh rakyat, terus bagaimana mungkin kami anti pancasila. Tolong kalau bicara jangan asal ngelantur dan ngawur.” teriak Bayu Kuncoro, anggota Dewan dari Fraksi PDI Perjuangan.

Sebelumnya Karaoke Maxi Brillian digrebek Polda Jatim, pada Senin (3/12/2018) atas dugaan asusila didalam tempat karaoke itu. Dan menetapkan dua tersangka yang merupakan pekerja dari karaoke ini.(mua)