Dengan Rakit Apung Hidroponik, Petani Bisa Tanami Lahan Rawa Sepanjang Tahun, Bagaimana Caranya?

oleh -
Tim peneliti Universitas Jember (Unej), Kelompok Petani Pulorejo dan santri PP Samratul Afkar mendemonstrasikan cara menanam selada di perangkat rakit apung hidroponik. (Foto: arahjatim.com/nurs)

Jember, ArahJatim,com – Biasanya bercocok tanam hidroponik memakai net pot yang ditaruh di meja khusus. Namun tim peneliti dari Universitas Jember (Unej) memperkenalkan cara baru yaitu dengan paralon yang dilengkapi alat pengapung, atau disebut juga rakit apung hidroponik. Menariknya, cara tanam tersebut dipersembahkan sebagai solusi di lahan rawa-rawa.

Seperti disampaikan oleh Humas Universitas Jember, tiga peneliti yang mengembangkan rakit apung hidroponik berasal dari Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember. Mereka adalah Sukron Romadhona, T. Sutikto, dan Joko Sudibya.

“Dengan rakit apung hidroponik ini, petani diharapkan tetap dapat memanfaatkan lahan rawa selama musim penghujan. Ini sebenarnya merupakan modifikasi dari cara bercocok tanam hidroponik yang sudah ada. Teknisnya paralon sebagai kerangka, dan botol plastik bekas air mineral sebagai landasan agar kerangka tetap mengapung. Sementara untuk menyalurkan nutrisi ke net pot maka digunakan kain flanel bekas,” papar Sukron Romadhona.

Baca juga:

Aplikasi alat tersebut dilakukan di lahan rawa di desa Gumukmas Kecamatan Gumukmas, Jember. Praktik cara bercocok tanam di rawa menggunakan rakit apung hidroponik dengan 78 lubang yang ditanami selada. Rakit tersebut diletakkan di lahan rawa seluas 5 ribu meter persegi dari luas total rawa yang mencapai 25 hektare. Petani yang terlibat dalam aplikasi rakit apung hidroponik adalah anggota Kelompok Tani Pulorejo dan santri Pondok Pesantren Samratul Afkar.

“Ini kita sedang belajar, bagaimana caranya kita tidak tahu. Kita lihat prakteknya, untuk solusi petani di lahan rawa-rawa bagaimana agar bisa ditanami sepanjang musim”, ujar Ponijan, petani setempat.

Selama ini lahan rawa hanya dapat dimanfaatkan oleh petani setempat di masa kemarau saja yaitu ketika air menyusut. Sementara di musim hujan kala air menggenangi rawa, petani tidak bisa memanfaatkannya. (nurs)