Dampak Virus Corona, Harga Bawang Putih Melonjak di Blitar

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49519879117_026bd9a068_b.jpg
Salah satu kios grosir pedagang bawang putih di Pasar Legi, Blitar. (Foto: arahjatim.com/mua)

Blitar, ArahJatim.com – Sejak dua minggu terakhir, harga bawang putih di pasar tradisional Kota Blitar melonjak tajam. Bahkan kenaikan mencapai dua kali lipat dari sebelumnya. Saat ini harga bawang putih tembus di angka Rp 48 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogramnya. Padahal sebelumnya harga bawang putih dijual di kisaran Rp 25-30 ribu per kilogramnya.

Para pedagang menuturkan, naiknya harga bawang putih disebabkan oleh merebaknya virus corona di negara Tiongkok (Cina), khususnya di Kota Wuhan. Akibat merebaknya virus tersebut, Pemerintah RI menghentikan impor bawang putih dari negeri tirai bambu itu.

“Sudah dua minggu ini mas harga bawang putih melonjak. Barang sulit didapat sehingga stok di tingkat agen besar kosong. Setiap barang naik harganya berubah dan naik,” ujar Edi, salah seorang pedagang grosir bawang putih di Pasar Legi Kota Blitar.

Baca juga:

Di tingkat grosir, harga bawang putih berkisar antara 42-45 ribu per kilogramnya. Sementara di tingkat pengecer sudah mencapai Rp 50 ribu per kilogramnya.

“Dalam sehari kita mampu menjual 3-5 kwintal bawang putih, yang kita datangkan dari Surabaya. Penjualan dua minggu terakhir ini memang menurun dibandingkan dengan sebelumnya,” tambah Edi.

Sementara salah seorang ibu rumah tangga, Nurhadi mengaku keberatan dengan melambungnya harga bawang putih. Ia terpaksa harus mengurangi pembelian bawang putih.

“Saya harus mengatur ulang uang belanjaannya, khususnya untuk pembelian bawang putih. Terpaksa untuk masak penggunaan bawang putih kita kurangi. Saya juga berharap agar pemerintah segera menormalkan harga sembako, khususnya bawang putih,” kata Nurhadi usai belanja.

Para pedagang memperkirakan, harga bawang putih akan terus naik, mengingat virus corona di Tiongkok belum juga reda. Sementara beberapa daerah juga banyak yang terdampak banjir sehingga gagal panen. (mua)