Da’i Asal Indonesia Muhammad Saharuddin Jadi Imam Masjid Abu Dhabi UEA

by -
Ustadz Muhammad Saharuddin, Da'i Asal Indonesia Yang Dipercaya Jadi Imam & Khotib di Masjid Abudhabi UEA

Abudhabi, ArahJatim.comKabar gembira datang dari salah seorang jamaah sekaligus da’i Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka), Ustadz Muhammad Saharuddin, SQ, yang kini bertugas sebagai Imam Masjid Abu Dhabi, UEA. Tak hanya itu, ia mendapat amanah menjadi khatib Juma’at. Seperti diketahui, di Abudhabi, menjadi khatib atau penceramah, tidak semudah di Indonesia. Semua harus melalui proses penyaringan yang ketat, atau semacam sertifikasi. Alhamdulillah penghafal Al-Qur’an asal Sulawesi ini, mendapat kehormatan menjadi khotib di Abudhabi. Berikut penuturannya seperti ditulis oleh Padasuka.id.

Baca Juga : 

Saya sebagai putera dan santri Nusantara tengah bersyukur karena kini tengah dipercaya menyampaikan khutbah Jumat salah satu masjid di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Kepercayaan ini diberikan kepada saya setelah menjalani masa percobaan selama kurang lebih 3 bulan. Tepatnya, sejak Jum’at pertama di bulan Desember ini, menurut informasi dari pihak Awqof (Bagian Pemerintahan yang mengurusi masalah keagamaan) bahwa ada Imam yang cuti sehingga ada masjid yang kekosongan imam dan khatib, maka saya ditunjuk untuk menggantikan dan mengisi kekosongan itu.

Saya sebenarnya kaget, karena saya kan masih baru, dan sebenarnya imam yang masih baru di Emirat itu statusnya disebut ‘Musyrif’ atau ‘Imam Cadangan’ yang tugasnya hanya badal imam dan tidak bisa menjadi khatib Jum’at. Tapi, kok saya yang masih musyrif ini ditunjuk jadi imam utama sekaligus menjadi khatib Jum’at? Begitu pertanyaan saya di dalam hati. Karena saya sadar sebagai bagian dari bawahan (pegawai) yang harus patuh pada atasan dan aturan, maka saya ikuti dan patuhi saja permintaan itu.

“Saya anggap saja ini adalah bagian dari latihan dan pembelajaran serta pengalaman bagi saya. Bismillah,” kata Saharuddin.

Sebenarnya, bagi saya menjadi khatib di Emirat ini gampang-gampang berat. Gampangnya adalah karena konsepnya disediakan oleh pihak Pemerintah (Awqof), sehingga khatib tidak lagi susah membuat konsep, tapi tinggal terima jadi dan tinggal dibaca saja.

Namun beratnya selain karena konsep itu berbahasa Arab, juga karena konsepnya baru diterima pada malam Jumatnya atau kamis sore, padahal saya sebagai khatib yang baru belajar disediakan waktu yang cukup terbatas untuk mempelajari dan melancarkannya. Berkat kemauan dan kesungguhan, alhamdulillah amanah ini mampu saya jalankan dengan baik, terhitung untuk Jumat hari ini (29 Desember 2017) adalah khutbah yang keempat kali bagi saya. Setelah mendengar khutbah, beberapa jamaah sempat kaget mendengar bahwa saya berasal dari Indonesia yang jauh di sana, dikiranya dari Saudi dan Maroko.

Sekali lagi saya bersyukur dengan kepercayaan ini, meski sejatinya saya belum sepantasnya menjadi khatib karena masih baru, bahkan menurut informasi, idealnya untuk menjadi khatib di Emirat, harus sudah menjadi Imam minimal 1 tahun. Bekal bahasa Arab dan ilmu agama lainnya yang saya peroleh selama di Pondok Pesantren “Mannilingi” di Jeneponto (Sulawesi Selatan) dan di Institut PTIQ serta ilmu ilmu dan pengalaman berdakwah selama di Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) adalah bekal utama yang kini membantu saya. (ist)