Blak-Blakan Ungkap Borok Kompetisi Sepak Bola, Bambang Suryo Diteror Mafia Bola

oleh -
Bambang Suryo (kanan) saat menggelar konferensi pers terkait sejumlah ancaman yang ia terima, karena mengungkap oknum bandar judi bola. (Foto: arahjatim.com/an)

Malang, ArahJatim.com – Usai buka-bukaan tentang match fixing atau pengaturan skor dalam kompetisi sepak bola negeri ini, dalam sebuah acara talkshow televisi berjudul #PSSIBISAPA. Bambang Suryo mengaku mendapatkan ancaman dari sejumlah pihak, yang tak senang dengan “aksinya” membongkar sejumlah nama dalam praktek pengaturan skor para mafia bola.

“Setelah menyebut nama Vigit Waluyo, semua orang tahu Vigit siapa. Sekarang kalau mau Vigit muncul, jangan hanya telepon menyuruh orang. Jangan hanya mengintimidasi. Kita tetap all out untuk memerangi match fixing, menjadikan sepak bola warna yang terbaru,” ujar Manager Tim Metro FC ini.

Tampaknya, polemik kisruh praktek match fixing dalam persepakbolaan dalam negeri, baik di kancah kasta terendah hingga tertinggi ini, akan terus bergulir. Ia menegaskan akan segera melaporkan 12 nama lain, yang selama ini menjadi operator pengaturan skor dalam sepak bola.

Baca juga:

Pria plontos yang telah berkecimpung di banyak klub sepak bola di tanah air ini mengaku, akan terus melakukan perang terhadap praktek match fixing ini.

“Saya mulai 2015 sudah tidak mau bermain dalam praktek ini. Saya tidak ada unsur ke hal yang lain.

Saya memerangi match fixing, bukan federasinya sebagian tanda kutip ada yang ikutkan oknum, bukan federasi PSSI,” ungkapnya.

Di hadapan awak media yang menemuinya, Bambang Suryo juga menegaskan, bahwa semua pihak dalam dunia sepak bola, harus juga ikut andil dalam membersihkan praktek jual beli skor pertandingan ini, agar bisa mewujudkan iklim sepakbola yang berprestasi.

Ia mengaku, saat masih aktif menjadi runner atau pelaku match fixing, ia dikendalikan oleh bandar dari Malaysia, Singapura, dan China. Guna melobi manajemen klub atau pemain dan juga wasit. Guna memainkan hasil skor “pesanan” bandar judi. Dengan kisaran uang ratusan juta rupiah per pertandingan.

“Kalau zaman saya dulu, di kisaran 400 juta ke atas. Untuk kasta tertinggi kompetisi, bisa mencapai 800 juta rupiah. Untuk kasta liga 2, bisa satu pertandingan 400 jutaan,” pungkasnya di hadapan wartawan.

Kini pihaknya, mengaku akan terus menempuh jalur hukum. Untuk melakukan pembenahan dalam atmosfer persepakbolaan Indonesia. Ia juga menambahkan, tak gentar dengan berbagai ancaman yang kini kerap ia terima. Ia pun meyakini dukungan sejumlah pihak dan juga suporter sejumlah klub, terus berdatangan mendukung upayanya membongkar praktek match fixing yang telah mengakar di kompetisi sepak bola negeri ini. (AN)