Berkah Di Bulan Syuro, Jasa Pelayanan Pencucian Pusaka Banyak Diminati Kolektor

oleh -

Kediri, ArahJatim.com – Merawat benda yang mempunyai nilai sejarah dan seni, seperti keris dan tombak tidaklah mudah, karena harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan khusus.

Jasa pencucian benda pusaka di Kota Kediri, Jawa Timur laris manis pada bulan Suro kali ini, bahkan pelanggan yang datang meningkat hingga 150 persen dibanding hari-hari biasa.

Benda pusaka seperti keris dan tombak warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang mempunyai nilai seni tinggi, tidaklah mudah untuk merawatnya.

Merawat benda puska harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan, agar benda tersebut tetap tampil bagus dan motif serta aura keris tetap terjaga.

Pada bulan Suro seperti ini, biasanya para kolektor melakukan perawatan dengan mencuci benda-benda pusaka mereka, tak ayal ini menjadi berkah tersendiri bagi penyedia jasa mencuci benda pusaka yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai prosesi marangi.

Salah seorang yang menekuninya adalah Beny Saferi. Warga asal Sumenep, Madura yang tinggal di kawasan perumahan Puri Asri Kelurahan Kali Ombo Kota Kediri ini sudah menekuni profesi ini sejak 10 tahun lalu.

Menjadi berkah tersendiri pada bulan Suro ini, pasalnya pelanggan yang menggunakan jasanya meningkat hingga 150 persen dibanding hari-hari biasanya.

“Keahlian ini saya dapat secara turun temurun dari kakek saya, pada hari biasa hanya melayani pencucian pusaka 200 biji sebulan, pada bulan Suro ini mencapai 400 hingga 500 biji perbulan,” ujar pria berumur 30 tahun beranak 2 ini.

Jasa Beny ini banyak digunakan oleh kolektor dari Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk, Malang, dan sekitar Kediri.

Setiap bilah benda pusaka Beny hanya memungut biaya 50 ribu rupiah.

“Untuk mencucikan benda pusaka ini, dibutuhkan waktu 2 hingga tiga hari tergantung cuaca, karena proses pengeringan membutuhkan sinar matahari yang cukup,” ujarnya

Beny mengaku pernah mencucikan puaska milik kolektor seharga 250 juta, yang bernama kris sngo barong.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk mencuci sebuah pusaka, di antaranya buah jeruk nipis, air kelapa, larutan batu warang atau batu arsenik. Pusaka yang akan dicuci dari karat dan debu, terlebih dahulu direndam dalam air kelapa, kemudian diputihkan dengan campuran air keruk dan sabun.

Setelah itu dijemur hingga kering, kemudian direndam dalam larutan air kelapa yang dicampur larutan batu arsenik selama 2 hari.

Jika motif dan aura keris sudah muncul, baru keris dibilas dengan air kembang, yang selanjutnya dimasukkan ke dalam kerangka keris seperti semula. (das)